: A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
Adami-Nekeb | Adan | Adar | Adas Manis | ADAT PERKABUNGAN | ADAT, TRADISI | Adaya | Adbeel | Addan | Addar | Addi
Daftar Isi
ENSIKLOPEDIA: ADAT, TRADISI

ADAT, TRADISI

ADAT, TRADISI [ensiklopedia]

Arti kata Yunani paradosis dan didomi (yg berurut dipakai 4 dan 6 kali) ialah: sesuatu yg disampaikan atau diteruskan dari seseorang kepada yg lain, khususnya dari seorang guru kepada murid-muridnya. Dengan maksud 'ajaran Yahudi' kata itu diterjemahkan 'adat' dalam TBI. Bilamana dikenakan kepada orang Kristen, kata Yunani biasanya diterjemahkan dengan 'ajaran', mis 1 Kor 11:2, 'ajaran yg kuteruskan kepadamu'.

I. Adat Yahudi

Kata itu tidak terdapat dalam PL, tapi pada zaman antar perjanjian banyak uraian tentang PL ditambah oleh para rabi. Ajaran ini diteruskan dari guru kepada murid, dan menjelang zaman Tuhan Yesus tradisi Yahudi ini sudah dianggap sederajat dengan Kitab Suci. Hal menyamakan ulasan manusia ini dengan penyataan Allah dicela oleh Yesus. Dengan adat istiadat seperti itu Firman Allah 'dilanggar', 'dinyatakan tidak berlaku', dikesampingkan dan ditolak (Mat 15:3,6; Mrk 7:8,9,13). Ajaran adat itu ialah 'perintah manusia' (Mat 15:9; Mrk 7:6-7) dan buahnya dalam praktik ialah ketidaksungguhan dan kemunafikan (Mat 15:8-9; Mrk 7:6-7). Manusia tidak dapat menambahkan sesuatu kepada Firman Allah tanpa memalsukan kebenarannya.

II. Tradisi Kristen

Walaupun kata 'adat istiadat' dalam Kitab-kitab Injil dipakai hanya untuk tradisi Yahudi, namun pikiran itu ada dalam ajaran Tuhan Yesus. Ia tempatkan ajaran-Nya sederajat dengan Firman Allah sebagai ulasan yg mempunyai kekuasaan, yg disampaikan-Nya kepada murid-murid-Nya. Maka dalam Khotbah di Bukit Yesus mengutip dari hukum Taurat, dan berulang-ulang mengucapkan kata-kata-Nya sendiri mendampingi kutipan hukum Taurat itu, sambil mendahului ulasan-ulasan-Nya dengan kata-kata, 'Tapi Aku berkata kepadamu' (Mat 5:22, 28, 32, 34, 39, 44; 6:25). Dinyatakan-Nya bahwa dengan berbuat demikian, Dia bukanlah menghapus hukum Taurat seperti yg dilakukan orang-orang Farisi, tapi menggenapinya (Mat 5:17-19). Hak dan pembenaran-Nya untuk berbuat demikian, terdapat dalam diriNya sendiri. Sebagai Mesias yg diurapi dengan Roh Kudus, yg kepada-Nya Roh Kudus diberikan tanpa batas, hanya Dia-lah yg dapat memberi ulasan yg sah dan yg mempunyai kekuasaan mengenai Firman Allah yg diilhamkan oleh Roh Kudus, yg patut untuk disamakan dengan Firman Allah.

Tekanan serupa itu pada diri Mesias terdapat dalam Surat-surat para rasul. Dalam Kol 2:8 Paulus memperingatkan, 'supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia ... tetapi tidak menurut Kristus'. Lawan tradisi dunia ialah Kristus. Demikianlah dalam Gal 1:14, 16 ditunjukkan Paulus, bahwa dilepaskannya tradisi nenek moyangnya, tatkala Allah menyatakan AnakNya itu dalam dia: Kristus tidak hanya menciptakan tradisi yg benar, tapi merupakan isinya juga. Justru tradisi Kristen dalam PB terdiri dari ketiga unsur berikut: (a) Kenyataan-kenyataan mengenai Yesus Kristus (1 Kor 11:23; 15:3; Luk 1:2 {'disampaikan' dlm Luk 1:2 menerjemahkan paredosan}); (b) penafsiran teologis dari kenyataan-kenyataan tersebut, mis seluruh dasar pikiran dalam 1 Kor 15; (c) cara hidup yg timbul dari kenyataan-kenyataan itu (1 Kor 11:2; 2 Tes 2:15; 3:6-7). Dalam Yud 3 'iman yg telah disampaikan kepada orang-orang kudus' meliputi ketiga unsur di atas (bnd Rm 6:17).

Kristus hanya bisa diketahui melalui kesaksian para rasul tentang Dia; maka para rasul menuntut bahwa tradisi mereka harus diterima sebagai yg mempunyai kekuasaan (1 Kor 11:2; 2 Tes 2:15; 3:6). Lih juga Ef 4:20-21, di mana para pembaca tidaklah mendengar suara Yesus sebagai manusia, tapi mendengar kesaksian para rasul tentang Dia. Kristus telah memerintahkan para rasul supaya memberi kesaksian tentang Dia, sebab mereka sejak semula telah bersama-sama dengan Dia; pada waktu yg sama dijanjikan-Nya bahwa Roh Kudus akan dicurahkan kepada mereka, yg akan memimpin mereka dalam seluruh kebenaran (Yoh 15:26-27; 16:13). Penggabungan kesaksian saksi mata dengan kesaksian yang dipimpin oleh Roh Kudus, menghasilkan suatu 'tradisi' yg merupakan tambahan yg benar dan yg sah kepada Kitab Suci PL. Dengan demikian 1 Tim 5:8 dan 2 Ptr 3:16 menempatkan tradisi para rasul sederajat dengan Kitab Suci dan melukiskannya sebagai Kitab Suci itu, dan 2 Ptr 1:16, 19 mendasarkan iman Kristen pada kesaksian para saksi mata dan pada 'firman yg telah disampaikan oleh para nabi' dalam PL.

Jabatan rasul terbatas pada hanya orang-orang yg menjadi saksi mata, dan karena hanya saksi matalah yg bisa memberi kesaksian yg dapat dipercaya tentang Kristus, sebagaimana Ia hidup, mati dan bangkit kembali, maka tradisi yg benar harus juga bersifat berasal dari para rasul. Hal ini diakui oleh gereja pada tahun-tahun kemudian, tatkala Kanon PB ditentukan dengan berdasar pada ihwal bahwa kitab-kitab bersangkutan bersifat berasal dari para rasul. Tradisi para rasul itu pada suatu ketika bersifat lisan, tapi bagi kita sudah menjadi nyata dalam tulisan-tulisan mereka, yg berisikan kesaksian yg dipimpin Roh Kudus tentang Kristus yg datang dari Allah. Ajaran kita, walaupun bersifat berfaedah dan layak untuk diperhatikan sungguh-sungguh, tak dapat menuntut tempat yg sederajat dengan PL dan PB yg mempunyai kekuasaan, tanpa menunjukkan keaiban-keaiban yg sama seperti yg dibuat oleh tradisi Yahudi, yg tercela itu dalam mata Tuhan Yesus.

KEPUSTAKAAN. 0 Cullmann, 'The Tradition' dalam The Early Church, 1956, hlm 59 dst; B Gerhardsson, Memory and Manuscript, 1961, hlm 122-70; Tradition and Transmission in Early Christianity, 1964; R. P. C Hanson, Tradition in the Early Church, 1962; Y. M. J Congar, Tradition and Traditions, 1966; F. F Bruce, Tradition Old and New, 1970. DJVL/MHS




TIP #18: Centang "Hanya dalam TB" pada Pencarian Universal untuk pencarian teks alkitab hanya dalam versi TB [SEMUA]
dibuat dalam 0.71 detik
dipersembahkan oleh YLSA