BAHASA PL
BAHASA PL [ensiklopedia]
I. Bahasa Ibrani
Bahasa Ibrani termasuk kelompok Barat dari rumpun bh-bh Semit (istilah Semit diambil dari nama Sem, putra sulung Nuh). Bahasa ini sangat dekat dengan bh Ugarit kuno, bh orang Fenisia dan bh orang Moab. Bahasa Kanaan diketahui hanya dari beberapa kata dalam Surat-surat dari Amarna, mungkin bh itu 'Bahasa tua' bagi bh Ibrani. Dalam PL 'Bahasa Kanaan' disebut 'bibir orang Kanaan' (Yes 19:18), atau bh Yehuda (2 Raj 18:26 dst; bnd Yes 36:11 dst dan Neh 13:24). Sebutan 'Ibrani' muncul pertama kali pada zaman Bin Sira (kr 180 sM).
Ciri khas bh-bh Semit adalah adanya akar kata terdiri dari tiga huruf mati, semacam kerangka bagi serangkaian pola-pola huruf hidup. Penyelipan huruf hidup ke dalam akar tadi menghasilkan pengertian tertentu. Contohnya dalam kata kohen, k-h-n adalah akar katanya, dan o-e adalah pola huruf hidupnya. Bunyi o-e kira-kira mengandung makna seperti yg terungkap dalam bentuk partisipium dalam bh Latin dan bh-bh Barat, sehingga kohen berarti '(orang) yg (sedang) melayani'.
Huruf Ibrani adalah keturunan dari tulisan Semit Utara atau Fenisia (*TULIS, MENULIS). Terdiri dari 22 huruf (kemudian huruf sy dan s dibedakan, hingga menjadi 23 huruf). Ditulis dari kanan ke kiri. Huruf-huruf itu juga digunakan untuk menuliskan angka-angka. Dalam bh ini dijumpai bunyi yg tidak didapati dalam bh-bh Indo-Eropa, mis huruf-huruf mati yg ditekan (t, kh [q] dan ts) dan bunyi tenggorokan 'ayin(`). Huruf terakhir ini sering dialihhurufkan ke dalam huruf Yunani gamma, mis dalam nama 'Gomora'. Di kemudian hari, setelah bh Ibrani tidak dipakai lagi sebagai bh sehari-hari, suatu sistem tanda-tanda dibubuhi di atas, di bawah dan di tengah huruf-huruf mati itu, supaya pembaca bisa tahu huruf-huruf hidup mana yg harus dibaca.
Sistem itulah yg umum kita jumpai dalam PL Ibrani. Sistem pemberian tanda bunyi ini merupakan tahap penting dalam bh Ibrani, dan ini merupakan hasil dari suatu tradisi yg dapat dipercaya dan bermutu tinggi. Contohnya, antara lain, perhatian yg diberikan pada perbedaan yg asli antara bunyi-bunyi tertentu dari kata-kata kerja yg berkaitan dengan kata benda atau yg berkaitan dengan kata sifat, di mana perubahan kerangka huruf matinya menunjukkan bentuknya yg mula-mula. Ada juga sejumlah tanda yg di luar abjad, sistem pungtuasi atau intonasi. Untuk Alkitab Ibrani cara pengucapan yg umumnya diterima adalah menurut gaya Sefardis (Yahudi Spanyol).
Para ahli Taurat dengan sangat hati-hati berusaha mencegah timbulnya satu pun perubahan pada teks-teks huruf mati yg ada. Bila mereka duga ada kesalahan penulisan, atau bila suatu kata tidak lagi digunakan secara sopan, maka mereka menempatkan kata yg dianggap benar atau lebih baik di tepi halaman, dan huruf-huruf hidup dari kata ini ditambahkan dalam teks (sering ditambahi dgn sebuah lingkaran kecil di atasnya). Huruf-huruf mati dalam teks disebut Ketib (yg tertulis), dan kata perbaikannya yg tertera di tepi halaman disebut Qere' (yg harus dibaca).
Bahasa Ibrani tidak mempunyai kata sandang tak takrif (tak definit). Kata sandang takrif (definit) adalah ha-, ditambahkan di depan kata benda. Kata penunjuk dan kata sifat juga diberi kata sandang takrif bila dikaitkan dengan kata benda takrif: contoh dalam bh Indonesia: orang itu, gemuk itu. Ha juga digunakan dengan kata yg menunjukkan golongan atau dengan sesuatu yg disebut lebih dahulu.
Kata-kata benda dalam bh Ibrani dibedakan jenis kelaminnya dan jumlahnya. Pembedaan jenis kelamin adalah masalah tata bahasa. Benda-benda hidup atau mati diberi jenis kelaminnya. Jenis betina biasanya diberi akhiran tertentu (-a). Tapi sejumlah kata benda betina tidak mempunyai akhiran seperti di atas, sehingga jenis kelamin kata tersebut ditunjukkan oleh persesuaian kata-kata sifat dan kata-kata kerja. Bahasa Ibrani mempunyai juga akhiran untuk kata-kata benda yg muncul berpasangan, terutama berkaitan dengan anggota tubuh. Bahasa Ibrani cepat membuang akhiran penunjuk 'kasus' (siapa yg kena perbuatan dll) tapi sisa-sisa akhiran itu kerap kali dijumpai.
Ada dua golongan utama kata kerja: yaitu yg berkaitan dengan kata benda (substantifal), dan yg berkaitan dengan kata sifat (ajektifal). Secara umum yg pertama bersifat dinamis, sedang yg kedua bersifat statis. Kata kerja terutama menunjukkan jenis tindakan, dan membedakan dua segi utama: tindakan yg telah selesai (perfective) dan tindakan yg belum selesai (imperfective). Untuk kerja yg sudah selesai ditambahi dengan akhiran penunjuk pelaku, untuk yg belum selesai ditambahi awalan penunjuk pelaku. Untuk kerja yg sudah selesai, bagi orang ketiga tunggal dibedakan jenis kelamin jantan dan betina; begitu pula orang kedua tunggal dan jamak. Untuk kerja yg belum selesai bagi orang ketiga jamak juga dibedakan jenis kelamin pelakunya.
Bahasa Ibrani mempunyai sejumlah bentuk kata kerja yg menggambarkan kadar-kadar tindakan khusus, mis yg berulang-ulang, yg bersifat menyebabkan, yg bersifat membiarkan sesuatu terjadi dsb. Ada beberapa golongan kata kerja yg tidak teratur tasrifnya. Ini timbul karena sifat-sifat bunyi dari sejumlah huruf mat! atau huruf setengah huruf hidup menyebabkan penyimpangan-penyimpangan tertentu.
Kata-kata benda dibentuk dengan bermacam cara: dengan keanekaan pola-pola suara, dan dengan atau tanpa tambahan huruf-huruf mati tertentu. Jika huruf mati digunakan biasanya dijadikan untuk awalan kata. Umumnya dipakai huruf m dan t. Bentuk tunggal digunakan secara luas untuk menggambarkan sekumpulan barang, dengan akibat bahwa akhiran betina seringkali digunakan sebagai sejenis akhiran yg menunjukkan satu dari sekumpulan benda, mis se'ar, rambut, sa`ara (betina), sehelai rambut. Bentuk-bentuk kosong ialah bentuk-bentuk yg kehilangan unsur-unsur morfologis yg menjadi ciri suatu golongan kata, kadang-kadang dijumpai dalam bh Ibrani. Mis tso'n (betina) = kawanan-kawanan; bnd tso'n'ovedot, 'domba yg hilang', di sini -ot menunjukkan unsur yg hilang itu. Kata benda yg mendahului petunjuk pemilikan diperpendek bunyinya dan kehilangan kata sandang tasrifnya. Kata benda dalam rangka ini jelas terlihat sebagai gabungan yg tidak terpisahkan. Kata ganti kepunyaan muncul sebagai akhiran terhadap kata-kata benda.
Kata-kata sifat dapat digunakan sebagai sebutan, dan jika tanpa kata sandang tasrif biasanya dipakai mendahului kata benda; atau sebagai keterangan jika di belakang kata benda dipakai kata sandang tasrif dari kata benda itu. Kata sifat dapat diberi kata sandang dan digunakan tersendiri karena dianggap bernilai sebagai kata benda. Perbandingan dibuat dengan penggunaan kata depan min. Tingkat tertinggi dari suatu jumlah sering dibiarkan tak terungkap mis 'yg baik' berarti 'yg terbaik', atau derajat perbandingan tertinggi diungkapkan dengan menyebut bentuk tunggal langsung diikuti bentuk jamak, mis 'Nyanyian dari nyanyian-nyanyian', yaitu nyanyian yg terindah atau terbaik.
Penggunaan kata bilangan menunjukkan beberapa kekhususan. Bilangan satu dan dua sesuai dengan jenis kelamin kata bendanya, tapi bilangan tiga sampai sepuluh berlawanan. Ini barangkali menunjukkan bahwa jenis kelamin menurut tata bahasa baru diperkenalkan di kemudian hari.
\\==> Image 00030\\
Kalimat nominal atau kalimat tanpa kata kerja yg sebutannya adalah kata benda, kata ganti atau kata sifat, digunakan secara luas. Biasanya disisipkan 'adalah' dalam terjemahan, mis: 'abdi Abraham (adalah) aku'. Dalam kalimat-kalimat yg menggunakan kata kerja, urutan kata-katanya sbb: kata kerja, pokok kalimat, tujuan. Sering kata 'et digunakan untuk menunjukkan tujuan kalimat. Jika tujuan kalimat terdiri dari kata ganti, ini dapat ditambahkan pada kata penunjuk tujuan itu, atau itu dapat ditambahkan pada kata kerjanya. Tujuan tak langsung yg terdiri dari satu kata depan dan satu akhiran penunjuk orang, pada umumnya mendahului pokok kalimat. Jika ada lanjutan kalimat yg bersifat kata keterangan, ini biasanya mengikuti tujuan kalimat. Bahasa Ibrani menggunakan orang ketiga tunggal atau jamak jantan dan orang kedua tunggal jantan dalam ungkapan mis, 'orang berkata....'
Ciri paling khas gaya bh Ibrani adalah sifat koordinatifnya, yaitu memakai secara luas kata penghubung 'dan', serta jarang memakai kata penghubung tidak setara. Bahasa Ibrani menggunakan secara luas istilah-istilah yg menggambarkan sikap-sikap badani untuk menunjukkan keadaan jiwa seseorang, atau bagian-bagian tubuh dikaitkan dengan sikap mental. Bagi siapa pun yg terbiasa dengan tatanan bh-bh Indo-Eropa, susah untuk melepaskan diri dari arti-arti asli; ini teristimewa dialami bila berhadapan dengan suatu karya yg penuh dengan ungkapan-ungkapan seperti itu, mis Kitab Kid.
Perumpamaan-perumpamaan dalam bh Ibrani banyak diambil dari benda-benda atau kegiatan-kegiatan dalam kehidupan sehari-hari, justru mempunyai nilai universal dan tidak sukar diterjemahkan. Bahasa Ibrani menggunakan semua perangkat bahasa, antara lain perumpamaan (mis 2 Sam 12), tamsil, kiasan mis 'bintang' atau 'singa' untuk pahlawan, 'batu karang' untuk perlindungan, 'terang' untuk hidup dan bagi penyataan Allah, 'gelap' untuk kesusahan dan kebodohan.
Bahasa Ibrani, seperti umumnya bh-bh lain, menggunakan ungkapan-ungkapan dalam bentuk-bentuk manusiawi; gunanya untuk mengalihkan atau menyesuaikan istilah-istilah yg berkaitan dengan anggota-anggota badan manusia atau kegiatan-kegiatan manusia, kepada dunia benda atau keadaan-keadaan lainnya yg sebetulnya secara langsung tidak dapat dikenakan kepadanya. Ungkapan-ungkapan itu berasal dari kiasan, dan dapat digolongkan pada 'perluasan arti'. suatu cara yg nampaknya adalah bagian dari mekanisme bh pada umumnya. Hal ini dijumpai dalam bh-bh Semit lainnya disamping bh Ibrani. Bahasa Akad misalnya, menyebut lunas kapal sebagai 'tulang belakang', kemana tulang-tulang iga melekat. Bahasa Ibrani memakai ungkapan 'kepala' gunung, 'wajah' bumi, 'bibir' (= pantai) laut, 'mulut' gua, 'perginya' air (kata kerja yg dipakai berarti 'berjalan pergi'). Ungkapan-ungkapan ini dan banyak ungkapan lainnya merupakan kiasan yg telah membeku. Bila ungkapan-ungkapan itu diterapkan untuk kegiatan atau sifat-sifat Allah, maka mustahillah menafsirkannya secara harfiah atas dasar-dasar ilmu bahasa, atau mendasarkan teori-teori kepercayaan atas dasar cara-cara pengungkapan yg sebenarnya ditentukan oleh hakikat komunikasi melalui bahasa.
Lazim juga dijumpai ungkapan-ungkapan elipsis (penghematan kata), di mana makna dari satu kalimat terletak hanya pada satu kata dari kalimat itu. Mis Yes 42:2 dalam bh Ibrani, kata 'suara' dihilangkan setelah 'menyaringkan'. Walaupun dijumpai petunjuk yg sangat dini tentang perubahan-perubahan semantis dalam PL (1 Sam 9:9), toh bukti-bukti terlalu sedikit untuk menyatakan bahwa bh Ibrani mengalami perubahan dalam perjalanan waktu. Sangat mungkin bh PL direvisi menjadi bh baku, barangkali bentuk bh yg dipakai di Yerusalem sebelum Pembuangan. Sisa-sisa bh daerah masih terdapat dalam beberapa kitab, mis Rut dan 2 Raj, dan sisa-sisa bh sehari-hari kemudian terdapat dalam Est, Taw dll. Memang tidaklah mudah mengenal kata-kata yg dipinjam dari bh-bh serumpun. Mis hekhal, Bait Allah, dari bh Akad ekallu, istana, berasal dari bh Sumer a-gal, rumah besar; 'argaman, ungu, dari bh Het.
Penemuan banyak naskah dalam bh-bh kuno yg serumpun, menambah pengertian tentang beberapa masalah yg sudah lama dipersoalkan. Sayang ada bahayanya: ada ahli-ahli yg karena demikian terpacu oleh penemuan tersebut, tergesa-gesa mengemukakan usul-usul yg melanggar kaidah bh Ibrani mengenai dua arti (ambiguitet). Mis, terjemahan modem Alkitab dalam bh Inggris, New English Bible, sering menafsirkan bh Ibrani menurut bh Arab, yg mengakibatkan kekeliruan (lih J. Barr, Comparative Philology and the Text of the Old Testament, 1968). Perbedaan-perbedaan besar antara bh Ibrani dan bh lainnya yg serumpun, sebagian besar berkaitan dengan perubahan anti yg terjadi dalam kata-kata, yg mengakibatkan usaha untuk memberi makna tertentu atas dasar etimologis kepada kata-kata dalam bh Ibrani yg jarang muncul, menjadi cenderung keliru.
Banyaknya Kitab-kitab PL bergaya sastra yg tinggi, menunjukkan bahwa sejak dini telah ada model-model karya sastra yg tinggi derajatnya. Dalam sastra Asia Barat Kuno, ada contoh-contoh gaya bh yg tinggi yg masih dipakai beberapa abad kemudian. Ahli-ahli telah banyak menulis tentang penyimpangan dalam gaya bh Ibrani, namun tidak ada faedahnya karena tidak ada ukuran yg tepat.
Sekarang telah jelas diketahui, bahwa pengaruh bh Ibrani atas bh Yunani PB tidaklah sebanyak yg diduga oleh banyak ahli. Walaupun demikian bb Ibrani meninggalkan cirinya baik dalam perbendaharaan kata maupun sintaksis dari bh Yunani PB. Ada banyak kata yg dipinjam dan banyak pula terjemahan pinjaman, mis hilasterion bagi tutup tabut perjanjian yg diperciki darah pada Hari Raya Pendamaian. Juga ungkapan seperti 'Diberkatilah engkau di antara (harfiah: di dalam) semua perempuan', di sini bh Yunani mengikuti bh Ibrani dalam penggunaan kata depan.
Pengaruh bh Ibrani atas karya-karya sastra Eropa tak dapat dihitung, kendati banyak di antaranya secara tidak langsung terjadi lewat Vulgata.
KEPUSTAKAAN. Bh Ibrani: A. B Davidson, An Introductory Hebrew Grammar, 1962; G Beer dan R Meyer, Hebraische Gram, I, 1952, 2, 1955; J Weingreen, Practical Grammar for Classical Hebrew, 1959; H Bauer dan P Leander, Historische Gram. der Hebrdischen Sprache, 1918-19; C Bergstrasser, Hebraische Grammatik29 (Gesenius-Kautzsch); W Gesenius, Hebrew Grammar (terjemahan A. E Cowley), 1910; F Bottcher, Lehrbuch der Hebraischen Sprache, 1861; T. O Lambdin, Introduction to Biblical Hebrew, 1971; P Jouon, Grammaire de I'Hebreu Biblique, 1923; E Konig, Lehrgebdude der Hebraischen Sprache, 1881-1897; S. R Driver, Hebrew Tenses, 1892; E Konig, Stilistik, 1900; Rythmik, 1914; C Brockelmann, Hebraische Syntax, 1956; F. I Andersen, The Hebrew Verbless Clause in the Pentateuch, 1970; The Sentence in Biblical Hebrew, 1974; Gesenius-Buhl, Handworterbuch, 1921; L Koehler, W Baumgartner, Hebraisches and aramaisches Lexicon zun Alien Testament, 1967; BDB.
II. Bahasa Aram
Dan 2:4-7:28; Ezr 4:8-6:18; 7:12-26; Yer 10:11, dua kata dalam Kej 31:47, dan Kitab-kitab Targum (terjemahan bg-bg PL) semuanya ditulis dalam bh Aram, bh serumpun bh Ibrani tapi tidak berasal dari bh Ibrani. Sejak abad 9 sM dan seterusnya, bh Aram dan cara tulisannya (berasal dari Fenisia) menjadi bh internasional dalam perdagangan dan hubungan kenegaraan. Menurut 1 Raj 20:34 ada pedagang Israel dan Damsyik di kedua ibukota itu, dan pada thn 701 sM pegawai Hizkia mau disapa dalam bh Aram yg dimengerti oleh penguasa dan pedagang tapi bukan bh rakyat (2 Raj 18:26).
Sesudah kr 730 sM bh Aram dipakai di Asyur: lempeng tanah liat, catatan pegawai tinggi, ukiran Asyur yg menggambarkan orang menulis dengan pena pada kertas, juga tulisan persegi pada lempeng tanah, semuanya memakai bh Aram. (Lih R. A Bowman, JNES 7, 1948, hlm 73-76; J. B Segal, Iraq 19, 1957, hlm 139-145; W Albright, BASOR 149, 1958, hlm 33-36.) Demikian juga surat Adon dari Askalon dalam bh Aram, yg dikirim kepada Firaun di Mesir pada thn 604 sM (?) (W. D McHardy, DOTT him 251-255.)
Catatan pada Dan 2:4 'dalam bh Aram', cocok sekali dengan pemakaian bh Aram di istana Nebukadnezar (boleh juga berupa catatan kepada pembaca). Tulisan Aram terdapat juga pada batu-batu bangunan di Babel zaman Nebukadnezar, bukti bahwa bh Aram sudah biasa di sana (lih R Koldewey, The Excavations at Babylon, 1914, hlm 80-81, gbr 52-53). Bahasa Aram menjadi bh resmi bagi kerajaan Persia yg besar itu (Kitab Ezr ditulis dlm bh Aram); hal ini dilukiskan oleh papirus dari Mesir (abad 5 sM). Lih A Cowley, Aramaic Papyri of the Fifth Century BC, 1923; H. L Ginsberg, ANET hlm 222-3, 427-30, 491-2; E. G Kraeling, The Brooklyn Museum Aramaic Papyri, 1953; G. R Driver dll, Aramaic Documents of the Fifth Century BC, 1954, edisi lain 1957.
Aksara yg digunakan sama dengan aksara Ibrani. Bahasa Aram mempunyai ciri tekanan suara yg kira-kira sama dengan bh Ibrani, termasuk penempatan tekanan pada kata-kata. Pola-pola suara pada keseluruhannya lebih dilembutkan, dan pada hal-hal tertentu mengikuti bentuk-bentuk yg lebih primitif. Pergeseran huruf-huruf mati pada kedua bh itu tidak ada aturannya yg jelas. Ibrani z = Aram d (d); Ibrani sy = Aram t; Ibrani ts = Aram t dsb. Tapi perubahan dari Ibrani ia menjadi Aram ' dan q sukar diterangkan menurut rumusan fonetis.
Kata sandang tentu adalah -- a, ditaruh sebagai awalan pada kata bendanya. Hubungan milik dapat diungkapkan seperti dalam bh Ibrani; kata benda yg mendahului bentuk memiliki (genitive) diperpendek, dan keduanya dianggap sebagai kesatuan. Hubungan milik ini lebih banyak diungkapkan dengan di, yg aslinya adalah kata penunjuk, mis: khezwa di lelya, berarti 'penglihatan di malam hari'.
Seperti dalam bh Ibrani, kata-kata benda mempunyai bentuk tunggal, kembar dan jamak. Ada dua jenis kelamin, jantan dan betina. Akhiran betina adalah -a, tapi banyak kata kerja betina tidak bertanda pengenal. Kata ganti milik ditambahkan kepada kata benda sebagai akhiran.
Kata kerja mempunyai dua aspek waktu, yaitu: perfektif (tindakan yg selesai) dengan akhiran penunjuk pelaku, dan imperfektif (tindakan yg belum selesai), dengan awalan-awalan penunjuk pelaku. Bentuk participle aktif digunakan secara luas untuk menunjukkan waktu kini dan akan datang. Ada kira-kira delapan bentuk kata kerja atau konyugasi. Bentuk pertama, dengan perubahan-perubahan untuk aktif, pasif dan refleksif; bentuk intensif dan bentuk penyebab, diwujudkan dengan awalan h, ', atau sy. Kata kerja 'ada', hawa, sering digunakan sebagai kata kerja bantu.
Ada banyak kalimat tanpa kata kerja. Pada kalimat-kalimat yg menggunakan kata kerja, baik kata kerja maupun pokok kalimat dapat didahulukan, tapi umumnya pokok kalimat didahulukan. Urutan kata tidak seketat seperti dalam bh Ibrani.
S. R Driver (LOT hlm 502 dst) berpendapat bahwa bh Aram Kitab Dan merupakan bh Aram dialek Barat, justru agak muda. Sewaktu Driver menulis, satu-satunya bahan yg dapat diperoleh sudah kedaluwarsa. Kemudian R. D Wilson, dengan memanfaatkan bahan dari sumber yg lebih tua yg ditemukan waktu itu, menunjukkan bahwa perbedaan antara bh Aram dialek Barat dan Timur belum muncul pada zaman pra-Kristen. Pendapat ini diperkuat oleh H. H Schaeder. Ahli ini meminta perhatian terhadap sifat yg tidak berubah dari bh Aram Kerajaan -- demikian sebutan resminya -- yg meniadakan kemungkinan untuk menyelidiki waktu penulisan dari naskah-naskah yg ditulis dalam bh itu, termasuk Kitab Dan dan Ezr. Ia menunjukkan bahwa tolok ukur yg dipakai untuk menetapkan bahwa Dan dan Ezr ditulis pada zaman yg kemudian, hanyalah hasil dari proses modernisasi cara penulisan yg berlaku pada abad 5 sM (lih F Rosenthal: Aramaitsche Forschung, hlm 676). Oleh apa yg kita ketahui dari naskah-naskah zaman itu yg menyangkut bidang perdagangan dan kontak-kontak diplomatik, kita tak dikejutkan oleh penemuan kata-kata pinjaman pada tempat-tempat yg paling tidak diduga.
Pengetahuan modern tentang bh Aram menunjukkan, bahwa alasan, yg dahulu dikemukakan untuk pendapat bahwa PL bh Aram ditulis sesudah zaman Persia, tak dapat diterima lagi. Hanya bukti mengenai suatu hal dapat disebut di sini. Pada masa yg lebih dini, dalam bh Aram ada bunyi dh, yg pada zaman Persia dilafalkan 'd'. Di Siria huruf mati ini ditulis z (pun dlm nama non-Aram, mis Miliz untuk Milid [h], pada batu prasasti Zakir), ejaan ini tetap dipakai dalam papirus Aram dari zaman Persia. Tapi di Asyur sejak abad 9 sM dh ditulis 'd' (adad-idri untuk [H]adad-ezer). Lafal dh sebagai 'd' pada zaman Persia diketahui dari beberapa hal: suatu naskah Aram ditulis dengan tulisan Mesir (abad 5 sM) menulis 't' bagi 'd' (J. A Bowman JNES 3, 1944, hlm 224-225, catatan 17), dalam papirus biasa Aram ada contoh' z' ditulis bagi'd' asli (bukan dh bnd EX Kutscher, JAOS 74, 1954, him 235 zyn wzhh). Dalam PL ditulis 'd', bukan 'z'. Hal ini tidak menyarankan penanggalan yg lebih dini. Ada dua kemungkinan: pertama, penulis menuliskan bh Aram dengan cara fonetis; kedua, mereka memakai ejaan lama, yg di kemudian hari tidak dipakai lagi.
KEPUSTAKAAN. Bh Aram: Reallexikon der Assyriologie (lih Aramu); E. Y Kutscher dalam T. A Seboek (red), Current Trends in Linguistics 6, 1970, hlm 347-412; R. D Wilson, Aramaic of Daniel, 1912; Studies in the Book of Daniel, 1917; H. H Rowley, The Aramaic of the Old Testament 1929; F Rosenthal, Aramaistische Forschung, 1939; Ell Schaeder, Iranische Beitrage, 1, 1930; K. A Kitchen, dalam DJ Wiseman (red), Notes on Some Problems in the Book of Daniel, 1965, hlm 31-79; Grammars oleh H Bauer dan P' Leander, 1927, H Strack 1921, W. B Stevenson 1924; F Rosenthal 1961; Lexicon-lexicon -- lih Kepustakaan di bawah 'Bahasa Ibrani' di atas. WJM/KAK/SS


untuk membuka halaman teks alkitab dalam format PDF. [