Daftar Isi
ENSIKLOPEDIA: DONGENG, MITOS

DONGENG, MITOS

DONGENG, MITOS [ensiklopedia]

I. Dalam Alkitab

Kata ini dipakai untuk mengungkapkan suatu cerita yg indah tapi bersifat dibuat-buat, dan sering bersifat sindiran, yg diberitakan untuk menyampaikan kepada pendengar sesuatu yg bermanfaat meskipun tidak disenangi. Jadi cerita Yotam tentang pohon raja (Hak 9:7-15) dan cerita Yoas tentang rumput duri dan pohon aras (2 Raj 14:9) dapat disebut dongeng, walaupun tidak diperikan demikian dalam Alkitab. Yg pertama ialah sebuah sindiran mengenai kebebalan memilih seorang raja yg tidak tepat, dan yg terakhir ialah suatu tempelakan terhadap Amazia karena kecongkakan hatinya.

Dalam PB 'dongeng' menerjemahkan mythos, yaitu cerita yg tidak hanya dibuat-buat tapi menyesatkan juga, sebab dikarang oleh guru palsu dengan maksud membelokkan hati pendengarnya dari kebenaran yg diwahyukan. Dalam 1 Tim 1:4 'dongeng-dongeng' barangkali adalah cerita-cerita yg mempunyai dasarnya pada cerita-cerita PL, sebab dalam Tit 1:14 disebut 'dongeng-dongeng Yahudi'. Dongeng-dongeng seperti itu dicemoohkan dalam 1 Tim 4:7 sebagai 'dongeng nenek-nenek tua'; dongeng itu sesat karena tidak berdasar pada penyataan Allah, dan hanya cocok untuk nenek-nenek tua saja (lih R. St. J Parry, The Pastoral Epistles, hlm 8485). Dalam 2 Ptr 1:16 disinggung 'dongeng-dongeng isapan jempol manusia', yg tidak diikuti oleh pengajar-pengajar Kristen yg sehat. Cerita-cerita khayalan ini, yg mungkin merupakan hasil kerja guru-guru ajaran Gnostik terdahulu yg menghasilkan Injil-injil Apokrifa, diperhadapkan kepada berita yg sesungguhnya mengenai Pemuliaan Tuhan Yesus yg diceritakan oleh Petrus. RVGT/MHS

II. Pemakaian modern

Dalam pemakaian modem kelompok kata itu mempunyai ragam arti yg luas.

1. Aliran mite dan upacara. Mythos adalah cerita, dan upacara adalah sarana yg mendramatisirnya. Menurut tafsiran T. H Gaster (Thespis, 1950), naskah-naskah agama Ugarit adalah 'mitos' upacara-upacara berkala tentang mengosongkan dan mengisi, yg dia coba merekonstruksinya. Ada ahli menganggap, bahwa hari raya Akitu atau Tahun Baru bangsa Babel adalah contoh bentuk upacara agama Asia Barat; di situ raja Babel memainkan peranan dari dewa yg mati dan bangkit kembali, dengan pengertian bahwa di dalam tubuhnya dia mewakili dewa itu, atau dia bertindak sebagai wakil untuk mengantarai bangsanya. Dalam pengertian ini suatu peristiwa sejarah, atau sederet peristiwa sejarah, bisa merupakan mitosnya, sama seperti jika berita Kel 1-15 dipandang sebagai mythos dari tindakan tiap tahun untuk merayakan perjamuan Paskah, atau cerita sengsara Yesus sebagai mythos dari Perjamuan Tuhan yg bahkan lebih sering diulangi (bnd 1 Kor 11:26).

2. Rencana pembuangan mitos (demythologization). Rencana ini dilancarkan oleh R Bultmann (New Testament and Mythology, 1940), yg menganjurkan bahwa, jika 'batu sandungan' (1 Kor 1:23) sesungguhnya tentang salib masih diinginkan untuk diberitakan efektif pada masa kini, maka Injil itu harus dibebaskan dari ciri-cirinya (dibuang mitosnya), termasuk 'pandangan dunia' milik bangsa-bangsa yg kepadanya Injil itu mula-mula diberitakan. Maksudnya tidak hanya alam semesta yg 'bertingkat tiga', tapi juga pengertian tentang dunia ini yg terbuka untuk dimasuki oleh kekuatan-kekuatan dari luar alam ini (yg sebenarnya bukan mitos). Sebagian peralatan mitos ini yg muncul dalam PB, ada yg menganggapnya (dgn dasar yg tak sepantasnya) berasal dari dongeng penyelamatan milik Iran, yg dikembangkan dalam berbagai aliran Gnostik, terutama Mandaisme.

3. Mitos dalam Teologi. Inilah judul karangan MY Wiles (BJRL 59, 1976-1977, hlm 226 dab), yg menyinggung pemakaian modem yg lain; di situ mitos merupakan lukisan yg tajam dan kaya akan angan-angan mengenai suatu kenyataan yg ada (seperti menyatunya keadaan yg ilahi dgn yg insani dlm hati kedirian manusia). Pemakaian secara teologi dari kelompok kata itu berasal dari D. F Strauss (Life of Jesus, 1835).

Karena pengertian umum dari kata mitos (dongeng) bukanlah hanya sesuatu yg tidak benar, tapi juga sesuatu yg positif sangat menyesatkan, maka pemakaian istilah ini dalam teologia sangat disesalkan. Pemakaian istilah ini, entah apa pun maksud pengarang tertentu, menimbulkan keragu-raguan tentang dapat tidaknya Alkitab dipercaya.

Sangat berbeda dan jauh lebih layak ialah pendekatan C. S Lewis dan yg lain-lain; menurut mereka 'Myth became Fact' (Dongeng Menjadi Kenyataan), tatkala Allah menjadi manusia, sehingga cita-cita dan pengertian dari roh manusia, yg dahulu mendapat pengungkapan dalam dongeng, telah diberikan jawaban yg menyenangkan dalam peristiwa-peristiwa sejarah dalam berita Injil, khususnya dalam penjelmaan Kristus dan kelepasan yg diberitakan.

KEPUSTAKAAN H. W Bartsch (red), Kervgma and Myth, 1, 1953; 2, 1962; F. F Bruce, 'Myth and History' dalam C Brown (red), History, Criticism and Faith, 1976, hlm 79 dab; sama, 'Myth', NIDNTT 2, hlm 643-647; dengan bibliografi; D Cairns, A Gospel without Myth, 1960; S. H Hooke (red), Myth, Ritual and Kingship, 1958; G. V Jones, Christology and Myth in the New Testament, 1956; C. S Lewis, Till we have Faces, 1956; W Pannenberg, 'The Later Dimensions of Myth in Biblical and Christian Tradition', Basic Questions in Theology, 3, 1972, hlm 1 dab; J. W Rogerson, Myth in Old Testament Interpretation, 1974. FFB/MHS




TIP #28: Arahkan mouse pada tautan catatan yang terdapat pada teks alkitab untuk melihat catatan ayat tersebut dalam popup. [SEMUA]
dibuat dalam 0.08 detik
dipersembahkan oleh YLSA