JAMUAN-JAMUAN
JAMUAN-JAMUAN [ensiklopedia]
I. Sumber-sumber di luar Alkitab
Barangkali gambaran tertua dari suatu perjamuan makan, adalah yg tersimpan pada meterai silinder dari batu lazuardi yg didapati di bukit Ur, Mesopotamia. Sekarang meterai itu tersimpan di Museum Universitas Filadelfia, dan berasal dari zaman Ratu Syub-ad (kr thn 2600 sM). Di situ terlukis suatu pesta jamuan, para tamu raja duduk di bangku-bangku yg rendah sedang dilayani dengan piala-piala berisi anggur oleh pelayan-pelayan yg memakai rok dari bulu domba. Musik diperdengarkan oleh pemain kecapi, dan pelayan-pelayan lain menggunakan kipas untuk menyejukkan suhu iklim panas Mesopotamia.
Lukisan seperti itu ada juga disimpan oleh ahli-ahli seni dari masa-masa berikutnya. Salah satu yg lebih menarik adalah bas-relief yg besar dari Asyur. Raja Asyurbanipal kelihatan minum dengan istrinya di taman istana kerajaan di Niniwe. Sementara raja bersandar pada balai-balai beralas bantal, ia mengangkat piala berisi anggur ke mulutnya. Permaisurinya nampak sedang minum dari piala yg cantik, duduk di kursi kecil yg mempunyai rak rendah sebagai tumpuan kakinya. Seperti halnya hasil seni dari Ur, pelayan-pelayan siap berdiri dengan kipas di tangannya untuk mengipas orang-orang yg makan dan mengusir nyamuk-nyamuk yg mengganggu. Dalam relief itu terlukis juga beberapa macam alat musik yg terletak di tanah dekat pohon anggur dan pohon korma, tersedia untuk dimainkan oleh ahli-ahli musik istana.
Daftar makanan yg paling tua yg masih tersimpan, adalah yg berhubungan dengan jamuan pesta yg diadakan oleh Asyurbanipal II, pada saat menahbiskan istananya yg baru di Nimrud. Pesta itu dikunjungi oleh 69.574 orang dan berlangsung selama 10 hari. Penjelasannya secara terperinci dipaparkan pada suatu tugu yg didirikan pada thn 879 sM (lih IBA, gbr 43).
\\==> Image 00108\\
II. Ay-ay Alkitab
a. Jamuan di istana
Kemolekan seperti disinggung di atas, yg menjadi ciri khas Mesopotamia kuno, masih belum mampu menandingi kehalusan dan keahlian yg mewarnai jamuan-jamuan istana pada zaman Mesir kuno. Lukisan-lukisan pada dinding kuburan-kuburan dan bangunan-bangunan lain, membuktikan secara mencolok tentang kesemarakan yg mewarnai upacara-upacara di situ, seperti jamuan istana pada hari ulang thn Firaun pada zaman Yusuf (Kej 40:20).
Pada saat-saat seperti itu, para tamu yg memakai rambut palsu yg indah-indah dan wangi-wangian, duduk di balai-balai dekat meja-meja yg rendah. Hidangan mereka bermacam-macam seperti ayam panggang, sayur-sayuran, daging lembu panggang, bermacam-macam kue, gula-gula dan manisan. Minuman umum termasuk bir yg dibuat dari jelai dan anggur. Lukisan-lukisan pada dinding-dinding kuburan menunjukkan pelayan-pelayan membawa guci-guci besar berisi anggur, dan memberikan kepada tamu-tamu tabung-tabung gelas yg berlekuk, yg dicelupkan ke dalam guci-guci itu. Para tamu minum terus sampai mereka mabuk dan jatuh terlentang di lantai dekat balai-balai makan mereka.
Adat pesta perjamuan di Persia pada abad 5 ada dicatat dalam Kitab Est, yg menceritakan tidak kurang dari lima pesta perjamuan seperti itu. Pesta pertama sangat lama, berlangsung selama 180 hari, yg diadakan oleh raja untuk menghormati semua bangsawan dan pembesar (Est 1:3 dab). Pesta ini disusul lagi oleh perjamuan selama 7 hari di taman-taman kerajaan, dan semua penghuni istana turut hadir di situ. Para tamu dilindungi dari sengatan matahari dengan tenda-tenda berwarna biru, hijau dan putih, yaitu warna-warna kerajaan Persia, dan disamping itu balai-balai makan bertakhtakan emas dan perak. Pesta-pesta lainnya yg disebut dalam Est adalah pesta khusus untuk kaum ibu istana (Est 1:9), pesta perkawinan Ester (2:16-18), jamuan minum yg diadakan untuk Ahasyweros dan Haman (5:4; 7:1-8) dan pesta yg dikenal sebagai pesta Purim (9:1-32).
Berlawanan dengan itu, jamuan istana Ibrani cukup sederhana hingga zaman raja Salomo. Para tamu dan pelayan amat banyak bahkan pada zaman Saul. Murka raja bisa timbul jika undangannya ke perjamuan ditolak (1 Sam 20:6). Belas kasihan Daud terhadap Mefiboset, anak timpang dari Yonatan, ditunjukkan dengan menyediakan makanan baginya di meja raja (2 Sam 9:7). Raja Salomo meniru raja-raja di sekitarnya dalam hal kerapian dan kesemarakan pesta-pestanya. Ada ahli yg cenderung berpendapat, bahwa raja Salomo mungkin mengadakan perjamuan-perjamuan musim panas di taman seperti dibicarakan dalam Kid. Di istana kerajaan di Samaria, ratu Izebel membiayai kelompok 400 nabi Asyera dan 450 nabi Baal (1 Raj 18:19). Kemelaratan Yudea pada zaman sesudah pembuangan sangat besar pertentangannya dengan banyaknya makanan yg disediakan oleh bupati Nehemia. Ia membiayai 150 orang Yahudi ditambah lagi beberapa tamu dari sekitarnya, dan makanan sehari-hari termasuk 6 ekor domba, seekor lembu, berbagai unggas, buah-buahan dan anggur (Neh 5:17-19).
b. Makanan kaum buruh
Tapi bagi golongan buruh pada zaman Alkitab, keadaannya berbeda-beda. Jam kerja mulai pagi sekali. Mereka tidak sarapan pagi, tapi masing-masing membawa dalam ikat pinggangnya atau dalam suatu bungkusan roti-roti kecil, buah ara, dsb, yg mereka makan dalam perjalanan menuju tempat kerja.
Agaknya orang Mesir makan pada siang hari (Kej 43:16), tapi pekerja Ibrani umumnya merasa puas dengan makanan kecil dan istirahat (Rut 2:14). Jika makanan ini tidak diterima, itu berarti puasa (Hak 20:26; 1 Sam 14:24). Makanan malam, makanan yg paling utama dalam sehari, dimakan sesudah selesai bekerja (Rut 3:7). Bila makanan telah tersedia, seluruh keluarga makan bersama-sama juga dengan tamu jika ada. Pada masa-masa pesta biasanya disediakan hiburan termasuk teka-teki (Hak 14:12), musik (Yes 5:12), dan tari-tarian (Mat 14:6; Luk 15:25). Pada zaman kuno orang-orang makan duduk berkelompok di tanah (Kej 18:8; 37:25), tapi di hari kemudian menjadi kebiasaan bagi mereka duduk menghadap meja (1 Raj 13:20; Mzm 23:5; Yeh 23:41) mengikuti kebiasaan Mesir, tapi barangkali dalam keadaan setengah bersandar (Est 7:8).
c. Aturan duduk
Pada zaman PB sering orang makan di lantai, yaitu lantai di atas tempat yg berupa kandang ternak umumnya dan binatang kesayangan (Mrk 7:28). Para tamu selalu bersandar pada balai-balai atau katil, yg diatur pada tiga sisi dari suatu meja yg rendah dan persegi empat. Biasanya tidak lebih 3 orang bersandar pada tiap katil, walau kadang-kadang jumlah ini bisa 4 atau 5 orang. Tiap balai-balai mempunyai bantal dan ke situlah siku kiri ditopangkan. Tangan kanan tetap bebas, selaras dengan adat istiadat Yunani-Roma pada saat itu. Para tamu berbaring di balai-balai sedemikian rupa, sehingga tiap orang dapat meletakkan kepalanya dekat pada dada dari orang yg bersandar langsung di belakangnya. Dengan demikian ia bersandar di 'pangkuan' kawannya (Yoh 13:23, 'dekat kepada-Nya' TBI; Luk 16:22), suatu jarak yg dekat yg umum bagi pembicaraan rahasia.
Tempat yg paling terhormat atau 'balai-balai yg tertinggi', ialah tempat yg langsung terdapat di sebelah kanan pelayan-pelayan bila mereka memasuki ruangan untuk melayani. Sebaliknya,'tempat yg paling rendah'ialah di sebelah kiri dari pelayan-pelayan, langsung berhadapan dengan 'balai-balai yg tertinggi' itu. Ketiga tamu yg ada di tiap balai-balai disebut yg tertinggi, yg menengah dan yg terendah. Sebutan itu demikian karena tamu yg bersandar pada dada (pangkuan) orang lain selalu nampak di bawah dari orang yg di belakangnya. Justru tempat yg paling diinginkan (Mat 23:6) adalah yg 'tertinggi' di 'balai-balai yg tertinggi'. Sebutan 'tinggi' atau 'rendah' di sini tidak ada hubungannya dengan badan.
d. Makanan itu sendiri
Makan malam -- saatnya menikmati hidangan utama setiap hari -- umumnya merupakan saat yg santai. Tamu-tamu selalu membasuh tangan sebelum makan karena adalah kebiasaan makan bersama-sama dari satu pinggan, yakni bejana yg besar berisi daging dan sayuran, yg ditempatkan di meja di tengah-tengah balai-balai itu. PL hanya sekali menyebut adanya ucapan doa sebelum mulai makan (1 Sam 9:13), tapi PB menyebutkannya beberapa kali; di antaranya Kristus mengucapkan doa sebelum mulai makan (Mat 15:36; Luk 9:16; Yoh 6:11).
Apabila adalah kebiasaan setiap tamu mencelupkan tangannya ke dalam pinggan bersama (Mat 26:23), ada juga perjamuan dimana kepada setiap tamu diberikan bagiannya tersendiri (Kej 43:34; Rut 2:14; 1 Sam 1:4-5). Pada zaman belum ada sendok dan garpu, untuk mengambil kuah daging dari piring digunakan potongan-potongan roti yg kecil dengan di jepit ibu jari dan dua jari yg lain dari tangan kanan (Yoh 13:26). Untuk mengambil daging juga dengan cara yg sama, lalu dimasukkan ke dalam mulut seolah-olah memakan roti berlapis. Jika seorang tamu dengan cara itu mendapati sepotong yg istimewa lezatnya, dia akan dianggap sopan bila memberikan yg sepotong itu kepada sahabatnya (Yoh 13:26). Selesai makan, biasanya mereka berdoa sekali lagi sesuai amanat Ul 8:10, dan sesudah itu para tamu membasuh tangannya lagi untuk kedua kalinya.
Dari kejadian-kejadian seperti halnya Rut di tengah-tengah para penyabit (Rut 2:14), Elkana dengan kedua istrinya (1 Sam 1:4-5), putra dan putri Ayub (Ayb 1:4) agaknya kaum perempuan makan bersama-sama di hadapan kaum lelaki. Tapi karena kelihatannya tugas untuk menyediakan makanan dan melayani para tamu biasanya diserahkan kepada perempuan dari keluarga itu (Luk 10:40), maka dapat diduga mereka lebih dulu makan ala kadarnya.
Makanan sekeluarga biasanya dihidangkan hanya dalam satu pinggan. Jadi apabila pinggan itu sudah disiapkan, maka anggota keluarga yg menyediakan makanan itu tidak mempunyai tugas yg lain lagi. Barangkali inilah pikiran yg mendasari teguran terhadap Marta (Luk 10:42), tatkala Yesus mengatakan bahwa hanya satu saja yg sungguh perlu. Pada zaman PL yg menghidangkan makanan biasanya adalah orang yg memasaknya (1 Sam 9:23), tapi kepala keluargalah yg membagikannya (1 Sam 1:4). Tentang jumlahnya bisa berbeda, tergantung pada perasaan kepala keluarga dalam hal mengutamakan seorang pribadi dalam keluarga itu (Kej 43:34; 1 Sam 1:5).
e. Jamuan khusus
Upacara khusus seperti merayakan hari kelahiran, hari perkawinan, atau kehadiran tamu-tamu terhormat biasanya ditandai dengan meningkatnya perayaan itu. Para undangan diterima dengan ciuman oleh tuan rumah (Luk 7:45), yg disusul dengan pembasuhan kaki (Luk 7:44). Pada hari-hari tertentu pakaian khusus disediakan (Mat 22:11) dan para tamu dihiasi dengan karangan-karangan bunga (Yes 28:1). Dalam upacara penting kepala, janggut, dahi dan kadang-kadang bahkan pakaian diurapi dengan wangi-wangian dan minyak (Mzm 23:5; Am 6:6; Luk 7:38; Yoh 12:3). Upacara demikian dipimpin oleh orang yg khusus, dan pada zaman PB disebut 'pemimpin pesta' (Yoh 2:8); kepadanyalah dipercayakan tanggung jawab memeriksa mutu rasa makanan dan minuman sebelum dihidangkan di meja.
Tempat duduk tamu-tamu diatur menurut martabat masing-masing (Kej 43:33; 1 Sam 9:22; Mrk 12:39; Luk 14:8; Yoh 13:23), dan sering dilayani dengan hidangan khusus (1 Sam 1:4-5; 2 Sam 6:19; 1 Taw 16:3). Tamu-tamu terhormat biasanya diistimewakan dengan suguhan istimewa baik dalam jumlah yg lebih banyak (Kej 43:34) atau yg lebih enak (1 Sam 9:24).
Pada zaman Paulus perjamuan merupakan pesta kemewahan, dan umumnya disusuli simposium atau diskusi ilmiah. Pada saat-saat seperti itu percakapan bisa sampai larut malam, dan pokok pembicaraan kadang-kadang adalah politik dan filsafat.
f. Kehadiran Yesus pada perjamuan
PB mencatat beberapa pesta perjamuan dimana Tuhan Yesus hadir sebagai tamu. Di antaranya jamuan kawin di Kana (Yoh 2:1-11), dan untuk itu disampaikan undangan resmi, seperti perumpamaan raja yg mengadakan pesta perkawinan anaknya (Mat 22:2-14).
Waktu Matius menjadi tuan rumah perjamuan (Mat 9:10), upacaranya mengikuti perjamuan formal pada abad pertama sM zaman Yunani-Roma. Yesus bersandar pada meja ditemani oleh murid-murid-Nya. Pemungut-pemungut cukai dan undangan lainnya tentu juga demikian. Mungkin ruang makan itu terbuka dan menghadap ke jalan umum, tapi pintu masuknya diberi tirai untuk melindungi tamu dari pandangan pejalan-pejalan kaki yg ingin tahu.
Tapi adat memperbolehkan orang menjenguk ke dalam melalui tirai-tirai itu dan mempercakapkan orang-orang yg menghadiri pesta. Kebiasaan inilah yg mendorong orang Farisi mempertanyakan apakah patut Kristus makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa (Mat 9:11).
Pada kejadian lain di ruang makan yg agak sama (Luk 7: 36-50), Yesus terlihat oleh seorang perempuan yg lewat, yg kemudian datang dengan buli-buli pualam berisi minyak wangi dan menuangkannya ke kaki Yesus. Tindakannya itu diartikan sebagai pengurapan biasa tanda keramahan bertamu, hal yg dilupakan oleh tuan rumah untuk menghormati para tamunya. Nampaknya tuan rumah juga lupa menyediakan air pembasuh kaki tamu, suatu hal yg pada zaman itu dirasakan sangat kurang hormat sekali. Jamuan yg diberikan kepada Yesus di Yerikho oleh Zakheus (Luk 19:6) mungkin agak mewah. Yang sederhana adalah jamuan keluarga di Betania (Luk 10:40; Yoh 12:2), dan jamuan yg terputus di Emaus (Luk 24:30-33) pada kebangkitan hari pertama. Pada suatu pertemuan Yesus tidak melakukan adat pembasuhan tangan sebelum makan, dengan maksud mengajarkan suatu asas rohani yg penting (Luk 11:37-42).
g. Makanan pada perjalanan
Orang yg bepergian ke suatu daerah yg diragukan keramahtamahan penduduknya, biasanya membawa sebuah kirbat berisi air (Kej 21:14) dan bekal berupa kue ara atau kismis, roti dan gandum goreng. Keadaan orang yg 'lupa membawa roti' (Mrk 8:1-9, 14), bisa sungguh mengkuatirkan dalam suasana tertentu.
III. Makna keagamaan dalam jamuan
a. Di antara bangsa-bangsa keturunan Sem
Segi kebersamaan pada jamuan dialihkan oleh semua bangsa Sem ke dalam hidup keagamaan. Penemuan-penemuan arkeologi di Ras Syamra (Ugarit) menunjukkan, bahwa jamuan-jamuan seperti itu adalah umum terdapat pada hidup keagamaan di tanah Kanaan. Kuil-kuil Baal selalu diresmikan dengan mengadakan pesta pora yg berkepanjangan. Di Sikhem sisa-sisa kuil Hyksos menunjukkan suatu ruangan untuk perjamuan, yg menyusuli pelaksanaan acara korban persembahan. Orang Ibrani mencari persekutuan dengan Allah dan pengampunan dosa dengan jalan perjamuan (*PASKAH; *KORBAN DAN PERSEMBAHAN, dan *HARI-HARI RAYA); dalam perjamuan itu darah dan lemak menjadi bagian Allah, sedang imam-imam dan umat mendapat bagian tertentu (Im 2:10; 7:6). Korban persembahan demikian adalah umum pada zaman raja-raja (1 Sam 9:11-14, 25; 1 Taw 29:21-22; 2 Taw 7:8-10), tapi tanpa kerakusan dan kemabukan yg menjadi sifat perjamuan agama-agama Kanaan.
b. Dalam agama Kristen
Perjamuan utama agama Kristen ialah Perjamuan Kudus, yg ditetapkan oleh Kristus dekat sebelum penyaliban-Nya (Mrk 14:22-25; Mat 26:26-29; Luk 22:14-20; *PERJAMUAN KUDUS). Di gereja kuno perayaan Perjamuan Kudus selalu didahului oleh Agape, yaitu suatu makan bersama, yg menandakan kasih persaudaraan di antara orang percaya (*PERJAMUAN KASIH; *MAKANAN).
KEPUSTAKAAN. EBi, 3, 2989-3002; E. W Heaton, Everyday Life in Old Testament Times, 1956, hlm 81 dab; A. C Bouquet, Everyday Life in New Testament Times, 1954, hlm 69 dab. RKH/MHS

