KANON PB
KANON PB [ensiklopedia]
I. Zaman Kristen pertama
Teologia Alkitab menuntut sebagai dasarnya suatu kepustakaan alkitabiah yg luas cakupannya mantap dan tetap. Keluasan ini secara tradisional telah mantap dalam Kanon PB sejak zaman pertentangan-pertentangan yg tajam dalam dunia teologia yg begitu luas dan besar. 'Kanon' di sini ialah bentuk Latin dari bh Yunani kanon, buluh. Karena pemakaian buluh bermacam-macam dari tanaman itu bagi pengukuran dan pengaturan, maka kanon menjadi berarti sebuah mistar, garis yg digariskan, kolom yg dibatasi oleh garis, dan oleh karenanya juga berarti: daftar yg ditulis di dalam kolom. Kanon ialah daftar kitab-kitab yg dipakai gereja dalam ibadahnya. Kanon juga berarti aturan atau standar. Karena itu arti kedua dari kanon ialah daftar Kitab-kitab yg diakui gereja sebagai yg diilhamkan, yg menentukan bagi iman praktik hidup. Pengertian kita tentang pengilhaman, menuntut bukan hanya bahwa kita menetapkan naskah Alkitab dan menganalisa sejarah masing-masing kitab yg ada dalamnya, tapi juga bahwa kita harus menelusuri seteliti mungkin pertumbuhan gagasan kanon dan Kanon itu sendiri.
Dalam penelitian ini, khususnya mengenai zaman yg paling dini, ada tiga hal harus dibedakan dengan jelas. Pertama, pengetahuan tentang satu kitab yg dengan jelas ditunjukkan oleh seorang Bapak Gereja atau sumber lain; kedua, sikap terhadap satu kitab sebagai kitab yg diilhamkan dari pihak Bapak Gereja atau sumber lain (yg dapat nyata oleh rumusan yg mendahuluinya, seperti 'Ada tertulis' atau 'Seperti dikatakan Alkitab'); dan ketiga, adanya gagasan tentang suatu daftar atau kanon di mana karya yg dikutip itu ditemukan (hal ini ditunjukkan, bukan hanya oleh daftar-daftar yg ada, tapi juga oleh hunjukan kepada 'kitab-kitab' atau 'rasul-rasul', dgn arti sebuah barkas kepustakaan). Pembedaan yg demikian ini tidak senantiasa diadakan, dengan akibat: kekacauan. Kutipan-kutipan juga pada zaman Kristen pertama, mungkin saja ditemukan; tapi apakah kutipan itu mencakup kedudukan sebagai Kitab yg diilhamkan adalah persoalan lebih lanjut, dan untuk menjawabnya sering tidak terdapat ukuran yg tepat. Karena demikianlah keadaannya, maka tidak mengherankan bahwa penyelidikan tentang adanya suatu daftar kanon atau gagasan tentang suatu kanon apa pun, sering gagal untuk mendapatkan bukti apa pun yg langsung, dan sama sekali tergantung kepada penyimpulan.
Titik tolak kita ialah data-data yg dibedakan oleh PB sendiri. Gereja zaman para rasul bukanlah gereja tanpa Alkitab -- ajarannya diambil dari PL -- biasanya PL bh Yunani, sekalipun beberapa penulis nampaknya memakai naskah Ibrani. Di tengah-tengah beberapa golongan Kristen, Kitab Apokrifa seperti ump 1 Henokh, juga dipakai. Apakah istilah 'kanonik' dapat diterapkan di sini masih dapat diperdebatkan, karena Kanon Yahudi belum ditetapkan, paling tidak secara resmi, dan ketika Kanon itu ditetapkan, penetapan itu dilakukan antara lain karena adanya pertentangan dengan orang Kristen. Dalam kebaktiannya gereja memakai beberapa dari tradisinya sendiri yg khusus: di dalam Perjamuan Kudus kematian Yesus 'diberitakan' (1 Kor 11:26), barang kali dengan kata-kata (cerita tertua ttg penderitaan Kristus) juga dengan lambang-lambangnya. Pemberitaan tentang Perjamuan Kudus itu sendiri diakui diterima 'dari Tuhan' suatu tradisi yg diawasi ketat: kita menemukan peristilahan ini juga di tempat-tempat di mana tingkah laku etis didasarkan atas ucapan-ucapan Tuhan Yesus (bnd 1 Kor 7:10, 12, 25; Kis 20:35).
Pada pokoknya inilah bahan lisan, suatu ungkapan yg seperti ditunjukkan oleh kritik-kritik, sama sekali tidak bermaksud bahwa kerangka atau isinya kabur. Bahwasanya ada kumpulan tertulis dari tradisi Kristen pada zaman para rasul, itu melulu adalah dugaan. Sekalipun telah diusulkan untuk menganggap ungkapan 'sesuai dengan Kitab Suci' (1 Kor 15:3, 4) sebagai hunjukan kepada adanya dokumen-dokumen PB pada zaman kuno ini, namun usul itu tidak diterima dengan baik. Di dalam bahan-bahan ini, baik yg lisan maupun yg tertulis, kita jumpai pada zaman ini suatu gereja dengan sadar memelihara tradisi-tradisinya mengenai kesengsaraan, kebangkitan, hidup (bnd Kis 10:36-40) dan ajaran Yesus. Tapi jelas, bahwa apa saja yg diketahui dan dipelihara oleh seseorang tidaklah mengurangi keabsahan dan nilai dari tradisi-tradisi yg dipelihara di lain tempat. Pada taraf 'prasejarah' dari perkembangan Kitab Suci Kristiani itu, pemeliharaan tradisi-tradisi itu sebagian besar terjadi tanpa disadari. Hal itu diteruskan dalam pembuatan Injil-injil, di mana dua anus pokok diperkembangkan tanpa yg satu tergantung kepada yg lain. Dalam hal ini nampaknya hanya sedikit saja yg tidak dicakupi.
Bahan Surat-surat dalam PB juga sejak semula memiliki, jika bukan pengilhaman, paling sedikit kewibawaan lengkap tentang hal-hal mengenai ajaran dan kelakuan; namun jelas bahwa tiada surat ditulis kecuali untuk penerima tertentu dalam keadaan historis tertentu. Pengumpulan surat-surat kelihatannya terjadi setelah kematian Paulus. Dilihat dari naskahnya, kelompok Surat-surat Paulus itu serba sama dan (seperti diperkembangkan oleh E. J Goodspeed) ada lebih banyak bukti kuat untuk menduga, bahwa pengumpulannya terjadi sekali saja, pada suatu saat (barangkali kr 80-85 M), dibandingkan pandangan yg mendahuluinya, yg dikemukakan Harnack, bahwa kumpulan surat-surat itu tumbuh secara pelan-pelan. Sejak semula kumpulan surat-surat itu mempunyai kedudukan yg tinggi sebagai kumpulan kepustakaan Kristiani yg berwibawa. Pengaruhnya atas gereja pada bagian akhir abad pertama dan awal abad kedua jelas nampak pada ajaran, bahasa, dan bentuk sastra pada zaman itu. Tidak ada bukti yg sama bagi kumpulan surat-surat yg lain yg tidak ditulis oleh Paulus pada zaman yg sama; Kis nampaknya juga tidak dihasilkan pertama-tama sebagai suatu dokumen pengajaran. Why sebaliknya, paling jelas menuntut diri sebagai dokumen PB yg diilhamkan secara langsung dan mewujudkan satu-satunya contoh dalam kepustakaan ini dari pengungkapan-pengungkapan dan penglihatan-penglihatan para nabi dari gereja PB.
Demikianlah di dalam PB sendiri kita memiliki bukti yg jelas mengenai bahan-bahan Kristiani, juga pada taraf lisan, yg diakui berwibawa dan dalam arti tertentu juga diakui kudus. Namun tiada tulisan yg menganggap dirinya sendiri sebagai pemeliharaan tradisi yg satu-satunya. Pada taraf ini tiada pengertian adanya suatu Kanon Kitab Suci Kristen, suatu daftar tertutup yg tidak boleh ditambah. Hal ini agaknya disebabkan oleh dua faktor: adanya tradisi lisan dan kehadiran para rasul, para murid rasul, dan nabi-nabi, yg menjadi pusat dan penafsir dari tradisi tentang Tuhan Yesus.
II. Para Bapak rasuli
Faktor-faktor yg sama terdapat pada zaman yg disebut zaman Bapak rasuli, yg dicerminkan dalam bahan-bahan yg diberikan oleh mereka bagi penelitian-penelitian mengenai Kanon. Mengenai Injil-injil, Klemen (First Epistle, kr 90 M) mengutip bahan yg sama dengan Injil-injil Sinoptik, namun dalam suatu bentuk yg tidak persis sama dengan Injil tertentu apa pun; juga ia tidak memulai kata-katanya dengan rumusan kutipan Alkitab. Yoh tidak dikenal olehnya. Ignatius dari Antiokhia (mati martir kr 115 M) sering bicara tentang 'Injil'; tapi pada segenap kesempatan itu kata-katanya dapat diartikan bahwa beritanyalah yg dimaksud, bukan dokumennya. Kesamaan yg sering nampak dengan Mat dapat berarti bahwa sumber ini dimanfaatkan oleh Ignatius, tapi penjelasan-penjelasan lain memang mungkin. Apakah Yoh dikenal olehnya tetap menjadi tanda tanya. Pendapat yg lebih kuat mengatakan bahwa Yoh tidak dia dikenal. Papias, secara terpotong-potong diawetkan dalam Eusebius dan dalam tulisan-tulisan lain, memberi keterangan mengenai Injil-injil, tapi maksudnya pemberitahuan itu tetap tidak dapat dipastikan atau masih terbuka dipertentangkan; khususnya ia meneguhkan dengan sungguh-sungguh kegemarannya bagi 'suara yg hidup dan menetap' yg dipertentangkan dengan ajaran Kitab-kitab. Surat Polikarpus dari Smirna kepada orang-orang Filipi, dengan jelas menunjukkan pengetahuannya mengenai Mat dan Luk. Maka ia menjadi bukti kuat yg terdahulu bagi pemakaian injil itu.
Tapi jikalau suratnya itu dalam kenyataannya mewujudkan suatu gabungan dari dua surat yg ditulis pada waktu-waktu yg berbeda (yakni bab 13 dan 14 kr 115 M; sisanya kr 135 M), maka Surat Polikarpus itu tidak sebegitu dini seperti pernah diduga. Tulisan yg disebut 2 Clement dan The Epistle of Barnabas, keduanya berasal dari kr 130 M. Keduanya banyak memakai bahan-bahan lisan, tapi menggunakan juga Injil-injil Sinoptik; dan masing-masing mengantarkan satu bagian dari Injil-injil itu dengan suatu rumusan kutipan Kitab Suci.
Di tengah-tengah para Bapak rasuli terdapat pengetahuan yg banyak dan luas mengenai Surat-surat Paulus; bahasa mereka sangat dipengaruhi oleh kata-kata rasul. Namun bagaimanapun tingginya penilaian mereka tentang tulisan-tulisan Paulus, hanya terdapat sedikit pengantar yg menunjukkan bahwa kutipan-kutipan itu dianggap diambil dari Kitab Suci. Beberapa bagian memberi kesan bahwa di lingkungan orang Kristen, orang membedakan antara PL dan tulisan-tulisan dari sumber Kristiani. Orang-orang Filadelfia mempertimbangkan Injil dengan 'arsip-arsipnya' (Ign. Philad. 8.2); 2 Clement berbicara tentang 'kitab-kitab (biblia) dan para rasul' (14.2), suatu kontras yg agaknya sama dengan 'Perjanjian Lama dan Baru'. Juga di mana Injil dipuji-puji (ump Ignatius atau Papias) agaknya lebih dalam bentuknya yg lisan daripada yg tertulis. Barnabas hanya bermaksud menjelaskan PL; Didakhe mewujudkan bahan pengajaran etik yg umum bagi orang Yahudi dan Kristen. Disamping bahan dari Injil-injil Kanonik atau yg sejajar dengannya, yg terbanyak dari para Bapak rasuli itu menggunakan bahan dari apa yg kita sebut dengan istilah 'apokrifa' atau 'yg di luar kanon', yg agaknya tidaklah demikian bagi mereka. Mereka masih berada dalam zaman ketika tulisan-tulisan PB belum dibatasi dengan jelas dari bahan-bahan lain yg membangun. Keadaan seperti ini dalam kenyataannya masih berlangsung sampai abad 2 M, yg dapat dilihat pada diri Yustinus Martir dan Tatianus. Yustinus menceritakan, bahwa 'laporan para rasul' yg disebut Injil-injil dibaca pada waktu kebaktian Kristiani, namun kutipan-kutipan dan singgungan-singgungannya memberi bukti bahwa keluasan kutipan-kutipan dan singgungan-singgungan itu tidak sama dengan keempat Injil tadi, melainkan berisi bahan 'apokrifa'. Bahan yg sama ini dipakai oleh Tatianus dalam karyanya untuk mengharmonisasikan Injil-injil, yg dikenal sebagai Diatessaron, atau seperti dalam satu sumber, barangkali lebih tepat sebagai Diapente.
III. Pengaruh Marsion
Menjelang akhir abad 2 mulailah muncul kesadaran akan pengertian tentang kanon dan status alkitabiah dalam pikiran dan aktivitas orang Kristen. Tantangan datang dari guru-guru ajaran sesat, khususnya karya Marsion dari Sinope, yg memisahkan diri dari gereja di Roma pada kr 150 M, tapi yg sebelumnya agaknya aktif di Asia Kecil untuk beberapa tahun. Ajarannya itulah yg sebagian besar mendorong kepada pemikiran hal kanon itu. Marsion menganggap dirinya penafsir Paulus. Ia mengajarkan tentang dua Allah: PL mewujudkan hasil karya Allah yg Adil, Khalik dan Hakim manusia yg keras; Yesus menjadi utusan Allah yg Baik (atau yg Baik Hati), yg lebih tinggi daripada yg Adil, yg diutus untuk membebaskan manusia dari belenggu Allah yg adil. Yesus disalibkan karena kejahatan Allah yg adil itu. Ia memberitakan Injil-Nya, mula-mula kepada ke-12 murid, yg gagal menjaga kemurnian Injil-Nya. Lalu Ia memberitakannya kepada Paulus, satu-satunya pemberita Injil itu.
Karena Marsion menolak PL sesuai kerangka ajaran Marsion sendiri, maka ia merasa perlu ada satu Kitab Suci yg jelas bersifat Kristiani, yg berbeda dengan PL. Ia menciptakan satu Kanon Kitab Suci yg pasti: satu Injil, yg agak ada hubungannya dengan Luk yg kita pakai sekarang ini, dan Surat-surat Paulus (dgn mengecualikan Surat Ibr dan Surat-surat Penggembalaan), yg bersama-sama menyusun Apostolos. Pertumbuhan yg cepat dari bagian terbesar Kanon PB yg terjadi pada zaman Yustinus dan Tatianus itu, secara langsung didorong oleh tantangan Marsion terhadap gereja, setelah ia secara final meninggalkannya. Pengaruh Marsion tetap membekas atas Kanon itu: pertama-tama dalam pendahuluan yg terdapat dalam beberapa naskah, pada surat-surat dan yg kini terkenal sebagai Pendahuluan Marsion, karena memang dari situ asalnya; kedua, dalam pendahuluan Injil-injil, yg nadanya jelas anti Marsion, yg terdapat dalam beberapa naskah yg diadakan guna menyoroti surat-surat yg diberi pendahuluan; ketiga, yg lebih dapat diamati secara umum, adanya tempat luas yg diberikan kepada Paulus dalam Kanon Umum, sekalipun surat-suratnya secara relatif diabaikan pada pertengahan abad kedua.
Dari kenyataan ini jelaslah, bahwa dengan menciptakan Kanon itu para pejuang ortodoksi merebut Kanon Marsion untuk dijadikan kanon mereka sendiri dengan mengubah warna sisanya, dengan cara mengubah dan menambah bahan-bahan dan pendahuluan-pendahuluannya. Kira-kira pada zaman yg sama Kis keluar dari kedudukannya yg ter asing. Sebelumnya kitab ini jarang dikenal atau dikutip. Gambarannya mengenai keamanan dan keselarasan antara Paulus dan gereja di Yerusalem, muncul sebagai pencegah terhadap pandangan Marsion tentang sejarah gereja, yg pada abad 19 baru diikuti lagi oleh aliran Tubingen.
IV. Ireneus sampai Eusebius
Pada parohan kedua abad kedua, seperti dikatakan di atas, bukti yg jelas mengenai gagasan kanon baru muncul, sekalipun tidak semua kitab yg sekarang yg termasuk dalam Kanon telah diterima di tiap gereja. Ireneus dari Lyons dalam karyanya Against the Heresies (guna menentang bidat-bidat) memberikan bukti yg jelas, bahwa pada zamannya keempat Injil itu sudah diterima di mana-mana, dapat disamakan dengan empat penjuru alam dan empat penjuru angin. Kis dikutipnya, kadang-kadang dengan tegas, sebagai Kitab Suci. Surat-surat Paulus, Why dan beberapa Surat Umum dianggapnya juga Kitab Suci, sekalipun tidak sering dengan tegas; namun (khususnya mengenai Surat-surat Paulus dan Why) cukup tinggi, untuk menunjukkan bahwa di dalam Kitab-kitab itu ada sumber utama bagi ajaran dan ada wibawa yg kepadanya orang harus menunjuk dalam pertentangan. Terhadap apa yg disebut pengetahuan esoteris yg dimiliki para penentangnya, Ireneus menekankan kepada tradisi-tradisi gereja sebagai diambil dari para rasul. Dalam tradisi-tradisi ini Kitab-kitab dari PB memiliki tempatnya. Tapi ia tegas menolak Ibr sebagai bukan Surat Paulus.
Hipoletus dari Roma, yg hidup sezaman dengan Ireneus, kita kenal melalui tulisan-tulisan yg sayang hanya sebagian saja yg masih tertinggal ada. Dialah orangnya yg banyak sekali mengutip Kitab-kitab PB, dan secara khusus menyatakan adanya dua perjanjian dan empat Injil. Banyak ahli yg bersedia mengakui, bahwa daftar Kitab-kitab Kanonik yg terpotong-potong yg masih terpelihara dalam bh Latin di dalam suatu naskah di Milan berasal dari dia. Naskah ini dikenal sebagai Kanon Muratori (menurut penerbitnya yg pertama, Ludovico Muratori). Tapi pendapat ini janganlah dianggap sudah terbukti: bh Latin itu tidak perlu dianggap sebagai terjemahan. Suatu hunjukan kepada asal Kitab Shepherd (Gembala) milik Hermas menunjukkan bahwa naskah itu dibuat kr pada thn 170-210 M. Bagian dokumen yg masih ada memberi suatu daftar dari tulisan-tulisan PB dengan beberapa keterangan tentang asal dan jangkauannya. Di sini kita menjumpai lagi empat Injil, pengakuan terhadap Surat-surat Paulus, pengetahuan tentang beberapa Surat-surat Umum, Kis dan Why. Juga dianggap sebagai kanonik: Apocalypse of Peter (tak ada petunjuk ttg Surat-surat Petrus), dan agak mengherankan, Kebijaksanaan Salomo. Shepherd disebut, tapi tidak dipandang sebagai patut dipakai dalam kebaktian umum. Waktunya dokumen ini ditulis penting sekali, bukan hanya sebagai kesaksian terhadap adanya suatu konsep Kanon yg tersebar luas pada waktu itu, tapi juga terhadap ketidakpastian-ketidakpastian sampingannya, dan tidak dimasukkannya dan dimasukkannya tulisan-tulisan yg di waktu yg lebih kemudian ditolak sebagai apokrifa.
Keadaan-keadaan yg ditunjukkan di dalam sumber-sumber ini tersebar luas dan diteruskan hingga abad 3. Tertulianus, Klemen dari Aleksandria, dan Origenes, semuanya menggunakan secara luas Kitab-kitab PB baik dalam pertentangan, dalam diskusi tentang ajaran, maupun dalam tafsiran langsung atas Kitab-kitab itu. Sebagian besar kitab yg ada di dalam Kanon sekarang ini dikenal oleh mereka dan diberi kedudukan kanonik. Tapi tetap ada ketidakpastian terhadap Ibr, beberapa dari Surat-surat Umum dan Why. Injil-injil yg tidak kanonik dikutip, kitab-kitab agrafa dikutip sebagai asli kata-kata Tuhan, dan beberapa karya Bapak-bapak Gereja, seperti ump The Epistle of Barnabas, Shepherd dan First Epistle of Clement, dikutip sebagai bersifat kanonik atau sebagai Kitab Suci. Kita menemukan naskah-naskah dari abad 4 dan 5, yg masih berisi beberapa dari surat-surat itu. Kodeks Sinaitikus memasukkan Barnabas dan Hermas; Kodeks Aleksandrinus memasukkan 1 and 2 Epistles of Clement. Claromontanus berisi suatu daftar dari Kitab-kitab Kanonik yg tidak memasukkan Ibr, tapi memasukkan Barnabas, Shepherd, dan Apocalypse of Peter.
Dengan singkat, gagasan tentang suatu Kanon yg definitif telah sepenuhnya dimengerti, dan garis besarnya yg pokok telah ditetapkan dengan kuat: inti persoalan ialah kitab-kitab mana dari suatu jumlah tertentu dari kasus-kasus yg diragukan yg termasuk di dalamnya. Kedudukan Kanon di dalam gereja pada abad 3 itu dirangkumkan dengan baik oleh Eusebius (EH 3.25). Ia membedakan antara kitab-kitab yg diakui (homologoumena), kitab-kitab yg diperdebatkan (antilegomena), dan kitab-kitab yg palsu (notha). Yg ditempatkan pada golongan pertama ialah: keempat Injil, Kis, Surat-surat Paulus, 1 Ptr, 1 Yoh dan (menurut beberapa orang) Why. Yg dimasukkan dalam kelompok kedua (sebagai yg 'diperdebatkan, namun dikenal oleh kebanyakan orang') ialah: Yak, Yud, 2 Ptr, 2 dan 3 Yoh. Yg dimasukkan dalam kelompok ketiga ialah: Acts of Paul, The Shepherd, The Apocalypse of Peter, The Epistle of Barnabas, The Didache (Pengajaran), The Gospel according to the Hebrews dan (menurut orang-orang lain) Why. Kitab-kitab yg terakhir ini, menurut Eusebius, sebenarnya dapat dimasukkan ke dalam golongan kedua, seandainya tidak perlu adanya perlindungan terhadap pemalsuan dengan sengaja terhadap Injil-injil dan Kis di bawah nama para rasul, yg diciptakan demi kepentingan ajaran bidat. Sebagai contoh pemalsuan-pemalsuan itu ia menyebut: the Gospels of Thomas, Peter dan Matthias, dan The Acts of Andrew dan John. Semua kitab ini 'bukan hanya harus dianggap sebagai kitab-kitab palsu, tapi harus ditolak sebagai sama sekali jahat'.
V. Penetapan Kanon
Abad 4 terlihat penetapan Kanon dalam batas-batas yg kita kenal, baik bagi umat Kristiani di bagian barat maupun di bagian timur. Di timur pokok yg menentukan ialah Surat Paskal ke-39 dari Atanasius pada thn 367. Di sini untuk pertama kali dijumpai satu PB dengan batas-batas terperinci seperti yg kita kenal. Ada perbedaan yg jelas antara tulisan-tulisan dalam Kanon yg disebut sebagai satu-satunya sumber pengajaran agama, dan tulisan-tulisan lain yg boleh dibaca, yakni Didakhe (Pengajaran) dan Shepherd (Gembala). Kitab-kitab Apokrifa yg bidaah disebut sebagai pemalsuan-pemalsuan yg dengan sengaja bertujuan menyesatkan orang. Di dunia barat Kanon ditetapkan oleh keputusan Konsili di Kartago pada thn 397, ketika sebuah daftar yg sama seperti daftar Atanasius disetujui. Kira-kira pada zaman yg sama sejumlah penulis Latin menaruh perhatian terhadap batas-batas Kanon PB: Priscilian di Spanyol, Rufinus dari Aquileia di Gaul, Agustinus di Afrika Utara (yg pandangannya memberi sumbangan bagi keputusan-keputusan di Kartago), Innocentius I, uskup Roma, dan penulis Keputusan Pseudo-Gelasius. Semua itu mempunyai pandangan yg sama.
VI. Kanon Siria
Perkembangan Kanon di gereja-gereja yg berbahasa Siria berbeda sekali. Mungkin bahwa Kitab Suci yg pertama yg dikenal di kalangan ini, sebagai tambahan dari PL ialah Gospel according to the Hebrews yg bersifat apokrifa, yg telah meninggalkan bekasnya pada Diatessaron ketika kitab itu diterima sebagai Injil umat Kristiani Siria. Mungkin bahwa Tatian telah mengantarkan juga Surat-surat Paulus dan barangkali bahkan Kis. Ketiganya disebut sebagai Kitab Suci dari Gereja Siria pertama oleh Doctrine of Addai, yakni suatu dokumen dari abad 5, yg dalam beritanya mengenai awal agama Kristen di Edessa mencampur dongeng dengan tradisi yg patut dipercaya. Tahap berikutnya dalam penjajaran yg lebih erat dari Kanon Siria dengan Kanon Yunani ialah pembuatan 'Injil-injil terpisah' (Evangelion da-Mepharreshe) untuk mengganti Diatessaron.
Tindakan ini sama sekali tidak mudah untuk dilaksanakan. Kitab Pesyita (naskahnya merupakan bentuk dari Evangelion da-Mepharreshe yg dibetulkan sebagian) diadakan pada abad 4. Kitab itu berisi, sebagai tambahan bagi keempat Injil, Surat-surat Paulus dan Kis, Surat-surat Yakobus, 1 Ptr dan 1 Yoh; yaitu padanan dari Kanon inti yg diterima dalam gereja-gereja Yunani, kr seabad sebelumnya. Dua versi dari sisa Kitab-kitab dari Kanon yg akhirnya diterima, dihasilkan di tengah-tengah kaum Monofisit Siria; makalah versi Philoxenos agaknya masih ada di dalam apa yg disebut 'Surat-surat Pococke' dan 'Apokalip Crawford', sedang makalah yg kemudian versi Tomas dari Harkel juga memuat 2 Ptr, 2 dan 3 Yoh dan Yud. 'Wahyu' yg diterbitkan oleh de Dieu hampir pasti berasal dari makalah ini. Keduanya menunjukkan, baik dalam penjiplakan yg ngawur dari naskah dan bh Yunani, maupun dalam hal pengerjaannya, pencampuran yg makin bertambah-tambah dad Kekristenan Siria ke suatu cara Yunani.
VII. Ikhtisar
Kita boleh merangkumkan sejarah masing-masing Kitab dari PB. Keempat Injil beredar dalam kebebasan yg relatif sampai waktu diterimanya secara resmi ada empat Kitab Injil. Injil Mrk agaknya mundur karena 'peluasannya' (Luk dan Mat) tapi tidak sampai tenggelam. Luk, sekalipun dilindungi Marsion, tidak tampak menjumpai pertentangan. Mat segera memperoleh tempat utama, yg didudukinya hingga zaman ilmu pengetahuan modern. Yoh berada dalam keadaan yg agak berbeda, karena pada bagian akhir abad 2 ada penentangan terhadapnya, ump dari orang yg disebut Alogoi dan penetua Roma, Gayus.
Tidak dapat disangkal bahwa hal itu disebabkan oleh beberapa ketidakjelasan yg masih mengelilingi beberapa segi dari latar belakangnya, asalnya dan peredarannya yg perdana. Tapi sekali diterima, wibawanya langsung tumbuh, dan nilainya yg tinggi dibuktikan dalam pertentangan dan perumusan-perumusan mengenai ajaran pada abad 4-5. Kis jarang dipakai bagi kepentingan liturgic atau pertentangan. Kitab ini tidak begitu dikenal sampai setelah zaman Ireneus, dan sejak itu ditetapkan dengan kuat sebagai bagian Alkitab. Kumpulan Surat-surat Paulus diteguhkan sebagai Kitab Suci sejak zaman pertama. Marsion agaknya menolak Surat-surat Penggembalaan, tapi tiada keragu-raguan mengenai Surat-surat itu dalam lingkungan lain. Polikarpus telah menganggapnya sebagai berwibawa.
Surat Ibr di lain pihak, tetap dipersoalkan selama beberapa abad. Di timur, Pantaenus dan Klemen dari Aleksandria mendiskusikan persoalan-persoalan penting mengenai penulisnya. Origenes memecahkan persoalannya dengan menganggap, bahwa gagasan Paulus di sini diungkapkan oleh seorang penulis yg tidak menyebut namanya. Eusebius dan beberapa orang lainnya melaporkan keragu-raguan barat, tapi setelah Origenes surat itu diterima di timur. Patut diperhatikan, bahwa surat ini mendapat tempat setelah Surat Rm di dalam papirus Chester Beatty pada abad 3 (hlm 46). Di barat keragu-raguan bertahan sejak zaman pertama: Ireneus tidak menerimanya sebagai ditulis oleh, Paulus, Tertulianus dan sumber-sumber Afrika lainnya kurang memperhatikannya, Ambrosiastes tidak menulis tafsiran surat ini. Pelagius juga tidak.
Konsili Hipo dan Kartago memisahkan Surat Ibr dari Surat-surat Paulus lainnya dalam penjumlahan kanonik mereka. Yerome melaporkan bahwa pada masa hidupnya, pendapat orang di Roma masih menentang keasliannya. Persoalannya tidak dipandang sebagai selesai hingga kr seabad; kemudian. Kumpulan Surat-surat Umum agaknya terjadi agak lebih kemudian, setelah penetapan bentuk yg hakiki dari Kanon pada akhir abad 2. Penyusunannya berbeda antara gereja yg satu dengan yg lain, antara Bapak Gereja yg seorang dengan yg lain. Surat 1 Yoh mendapat tempatnya yg pasti sejak zaman Ireneus; 2 Yoh dan 3 Yoh sedikit sekali dikutip, dan kadang-kadang (seperti dlm Kanon Muratori) kita tidak mendapat kepastian apakah kedua surat itu yg dimaksud. Sudah barang tentu hal ini disebabkan oleh kecilnya surat-surat itu atau tidak adanya kepentingan teologis.
Surat 1 Ptr juga memperoleh tempat yg kurang kuat (tapi perhatikanlah sifat mendua Kanon Muratori). Surat 2 Ptr masih termasuk kitab-kitab yg dipersoalkan pada zaman Eusebius. Kedudukan Surat Yak dan Yud berubah-ubah menurut gereja, zaman dan penilaian perseorangan (kita boleh mencatat di sini bagaimana Yud dan 2 Ptr dikelompokkan dgn suatu bunga rampai kepustakaan keagamaan, sebagai satu jilid dlm suatu papirus koleksi Bodmer). Untuk dimasukkan ke dalam kumpulan Surat-surat Umum ini agaknya ada beberapa macam karya tulisan seperti Shepherd, Barnabas, Didache, yg semuanya itu agaknya di sana sini diakui dan digunakan sebagai bersifat alkitabiah.
Why dua kali ditentang: sekali pada abad 2 karena apa yg disebut dukungannya terhadap tuntutan Montanus akan pengilhaman kenabian, dan sekali lagi pada bagian akhir abad 3 atas dasar kritik, karena dibandingkan dengan Yoh, dalam pertentangan antara Dionisius dari Roma dan Dionisius dari Aleksandria. Kedua macam keraguan itu memberi sumbangan kepada kecurigaan yg bersambungan yg dengannya kitab itu dipandang oleh gereja-gereja Yunani, dan penerimaannya yg kasep sekali dalam gereja-gereja Siria dan Armenia. Sebaliknya di barat Kitab itu cepat mendapat kedudukan yg tinggi. Kitab itu diterjemahkan ke dalam bh Latin paling sedikit pada tiga kesempatan yg berbeda-beda, dan banyak tafsiran diberikan kepadanya sejak zaman Victorinus dari Pettau (yg mati martir pada thn 304) dan seterusnya.
VIII. Kedudukannya sekarang
Demikianlah Kanon PB tumbuh dan menjadi tetap dalam bentuk yg kita kenal sekarang. Pada abad 16 kaum Kristen RK dan Protestan, setelah mengadakan pembicaraan, meneguhkan kembali keterikatan mereka kepadanya, dan Gereja RK belum lama ini menekankan lagi keterikatannya. Kaum Protestan yg konservatif juga meneruskan memakai Kanon yg diterima melalui tradisi, bahkan para wakil teologia liberal tidak mengajarkan ajaran yg bertentangan. Memang, di hadapan penelitian Alkitab yg modern dan pendapat beberapa ahli bahwa ada tulisan-tulisan yg di dalamnya ada yg tidak bersifat rasuli -- dan dalam hal itu -- kita perlu memahami lagi faktor-faktor dan motif-motif yg mendasari proses historis yg digariskan di atas. Bahwa dokumen-dokumen itu dimasukkan ke dalam Kanon berarti gereja Kristen mengakui kewibawaan dokumen-dokumen itu.
Pada zaman paling dini belum ada Kanon, karena kehadiran para rasul atau para murid mereka, dan karena tradisi-tradisi lisan yg hidup. Pada pertengahan abad kedua para rasul telah tiada, tapi tulisan-tulisan mereka dan monumen-monumen yg lain menguatkan amanat mereka. Pada waktu yg sama muncullah ajaran bidat, dan penekanannya kepada teori teologis atau kepada pengilhaman baru mengharuskan adanya penekanan baru kepada kewibawaan ajaran yg ortodoks dan suatu rumusan yg lebih ketat terhadap Kitab-kitab yg berwibawa.
Demikianlah keempat Injil dan kumpulan Surat-surat Paulus yg telah dipakai di kalangan luas, diumumkan bersifat alkitabiah bersama dengan beberapa tulisan lainnya yg menyatakan diri ditulis oleh para rasul. Baik pembicaraan mengenai ajaran dan yg bersifat ilmu maupun perkembangan, melanjutkan proses pengakuan sampai Kanon itu dilengkapi pada waktu perwujudan intelektual dan kegirangan dari umat Kristen pada abad 4-5. Tiga patokan dipakai, baik pada abad 2 atau 4, guna meneguhkan bahwa dokumen-dokumen tertulis itu mewujudkan laporan yg benar dari suara dan amanat kesaksian para rasul.
Pertama, mengkaitkannya dengan para rasul: ini tidak berlaku bagi semuanya, mis Mrk dan Luk diterima sebagai hasil karya orang-orang yg erat hubungannya dengan para rasul.
Kedua, pemakaian oleh gereja-gereja, yaitu pengakuan oleh gereja pembimbing atau oleh sebagian besar gereja. Karena patokan ini banyak Kitab Apokrifa ditolak, beberapa barangkali tidak berbahaya dan bahkan berisi tradisi asli dari kata-kata Yesus, lebih banyak lagi yg hanya fiksi saja, tapi tidak ada yg ditolak yg diakui oleh sebagian besar gereja.
Ketiga, kesesuaian dengan ukuran-ukuran ajaran yg sehat: atas dasar ini Injil keempat mula-mula diragukan tapi akhirnya diterima; atau (sebaliknya) Gospel of Peter dilarang oleh Serapion dari Antiokhia karena kecenderungannya kepada doketisme, sekalipun tuntutannya sudah ditulis oleh rasul.
Demikianlah sejarah perkembangan kanonik Kitab PB itu menunjukkan, bahwa Kanon adalah kumpulan Kitab-kitab yg dikaitkan dengan rasul-rasul atau dengan murid-murid mereka, yg oleh gereja pada keempat abad pertama dipandang benar, karena kitab-kitab itu mampu memberitakan dan merumuskan ajaran para rasul, sehingga dipandang cocok bagi pengajaran umum dalam kebaktian kepada Allah. Jikalau ini dimengerti dengan pertumbuhannya yg bertahap dan keanekaan sifat Kanon itu, kita dapat tahu mengapa dahulu dan sekarang ada persoalan-persoalan dan ada keraguan terhadap karya-karya tertentu yg dimasukkan ke dalamnya. Karena menganggap ketiga patokan itu memadai, maka umat Kristiani Protestan kini tidak mendapatkan alasan untuk menolak keputusan-keputusan angkatan-angkatan terdahulu, dan karena itu menerima PB sebagai suatu laporan lengkap dan berwibawa dari penyataan Ilahi sesuai yg diumumkan sejak zaman kuno oleh orang-orang terpilih, yg penuh penyerahan dan yg diilhami.
KEPUSTAKAAN. Th Zahn, Geschichte des neutestamentilichen Kanons, 1888-1892; J Leipoldt, Geschichte des neutestamentischen Kanons, 1907-1908; M. J Lagrange, Histoire ancienne du Canon du Nouveau Testament, 1933; A. H McNeile, Introduction to the Study of the New Testament', 1953; A Wakenhauser, New Testament Introduction, Part I; the Canon of the New Testament; A Souter, The Text and Canon of the New Testament, 1954; J Knox, Marcion and the New Testament, 1942; E. C Blackman, Marcion and His Influence, 1948; The New Testament in the Apostolic Fathers, 1905; J. N Sanders, The Fourth Gospel in the Early Church, 1943; J Hoh, Die Lehre des heiligen Irenaeus ueber das Neue Testament, 1919; W Bauer, Der Apostolos der Syrer, 1903; Rechtglaubigkeit and Ketzerei im altesten Christentum, 1934 (direvisi, 1964); R. P. C Hanson, Tradition in the Early Church, 1962; J Regul, Die antimarcionitischen Evangelienprologe, 1969; R. M Grant, The NT Canon (Cambridge History of the Bible, Vol 1,1970,ps 10,hlm 284-308, 593 dst); H von Campenhausen, The Formation of the Christian Bible, 1972. JNB/HH

