RELATIVISME BUDAYA
RELATIVISME BUDAYA [browning]
Pandangan bahwa persepsi tentang dunia ini tak terhindarkan, ditentukan oleh latar belakang dan lingkungan si penulis. Beberapa sarjana modern berpendapat bahwa alam berpikir para penulis Alkitab amat berbeda dengan alam berpikir Barat modern, sehingga sangat sulit, bahkan tidak mungkin, benarbenar kita masuki. Semua ungkapan kepercayaan bersifat relatif untuk situasi kultural tertentu, yang di dalamnya ungkapan tersebut diucapkan. Tidak berarti bahwa para penginjil atau para rabi tidak cerdas -- jauh dari itu -- tetapi bahwa mereka memiliki persepsi tertentu mengenai semesta alam, yang daripadanya mereka tidak dapat melarikan diri dan di dalamnya mereka harus memahami segala sesuatu yang lain. Karena itu, dikatakan bahwa dalam alam semesta yang dihuni oleh kuasa-kuasa supranatural, yang kemungkinan diam di dalam ruang antara bumi dan langit (1Tes. 4:17), manusia tunduk pada pengaruhnya. Itulah sebabnya ada kepercayaan bahwa manusia dapat dimiliki oleh Iblis -- sedangkan kita mungkin menganggapnya sebagai kelainan psikis tertentu, misalnya sindrom Munchausen (cat. penjmh.: Baron Hieronymus Karl Friedrich Munchausen hidup di Jerman pada 1700-an, terkenal sebagai pembual besar) sebagai salah satu contohnya. Demikian pula, kita tidak mungkin memahami secara simpatik apa maksud orang-orang Ibrani dengan upacara-upacara korban mereka, atau apakah yang dimaksudkan para penulis PB dengan menggunakan kategori-kategori yang sama. Kita tidak tahu bagaimana rasanya hidup dalam pengharapan bahwa akhir zaman akan terjadi dengan segera (bnd. Flp. 4:5). Demikian halnya dengan doktrin-doktrin ortodoks, seperti *inkarnasi, yang berasal dari dasar-dasar pikiran abad pertama yang sulit dipercaya, perlu dipertanyakan atau ditafsirkan kembali.
Namun demikian, beberapa sarjana berpegang pada pendapat bahwa kebudayaan-kebudayaan dari zaman yang berbeda-beda itu lebih banyak mempunyai kontinuitas, ketimbang yang diakui oleh para relativis. Lagi pula, pada setiap generasi pasti ada orang yang tidak mau mengakui kepercayaan yang mulai merembes. Orang *Saduki abad pertama menolak gagasan mengenai roh-roh supranatural dan *malaikat (Kis. 23:8). Dari zaman ke zaman selalu ada orang-orang jenius yang mampu melompati alam berpikir zamannya dan memberi arah baru kepadanya, seperti yang dilakukan Galileo pada 1613 M. Mereka yang menolak relativisme sempurna berpendapat bahwa mungkin saja terjadi hubungan yang erat di antara kebudayaan yang berbeda-beda. Tidak seorang pun memiliki kebenaran sempurna tentang Allah, tentang Kristus atau tentang kehidupan manusia. Karena itu, dialog mungkin dan perlu dilakukan. Abad pertama bukanlah abad kita, namun apa yang diajarkan dan dipercayai oleh orang-orang pada waktu itu tidak harus ditolak sebagai kekeliruan total atau sama sekali tak berarti, hanya karena hal itu bukanlah bahasa kita.

