A. Sekilas Mengenai Paul Knitter
Paul Knitter adalah seorang profesor teologi di Universitas Xavier, Cincinnati. Beliau menerima Licentiate dalam teologi dari Universitas Pontifical Gregorian di Roma (1966) dan gelar Doktor dari Universitas Marburg di Jerman (1972). Karya-karyanya berdasarkan penelitian yang ia terbitkan berkisar di seputar masalah pluralisme agama dan dialog antar agama. Karyanya yang terkenal adalah No Other Name? (1985), yang menantang Kristen untuk berkomitmen dalam dialog yang lebih efektif dengan orang-orang dari agama lain. Baru-baru ini, ia membahas mengenai bagaimana komunita-komunita agama di dunia ini dapat bekerja sama dalam mendukung keberadaan manusia dan ekologi yang baik. Karya-karyanya yang terbaru, setelah No Other Name? adalah One Earth Many Religions: Multifaith Dialogue and Global Responsibility (1995) dan Jesus and The Other Names: Christian Mission and Global Responsibility (1996). Knitter juga menjabat sebagai editor utama dari buku-buku terbitan Orbis, yang bertajuk seri "Faith Meets Faith."1629
B. Dasar Pemikiran dan Titik Berangkat Gagasan Pluralisme Agama yang Unitif
Dalam bagian awal dari tulisannya, Paul Knitter memulainya dengan mengajukan beberapa pertanyaan yang umum diajukan dalam konteks agama-agama di dunia ini,
"Masalah banyak agama ini begitu menyakitkan, karena kuantitas dan kualitas pengetahuan tentang banyak agama dan agama-agama lain sekarang telah mematikan serangkaian pertanyaan-pertanyaan yang para agamawan tanyakan sejak dulu kala, dan mereka hanya ambil langkah aman dalam kamp-kamp agamawi mereka sendiri yang terisolasi, dan tidak pernah menghadapi pertanyaan-pertanyaan seperti: Mengapa ada begitu banyak agama-agama yang berbeda? Jika Allah satu, bukankah seharusnya hanya ada satu agama? Apakah agama-agama itu sama-sama benar dan sama-sama salah? Apakah mereka itu mau membagikan sesuatu yang sama? Bagaimana mereka berelasi satu dengan lainnya? Apakah banyak agama itu sesungguhnya hanya satu adanya? Dan lebih spesifik lagi, bagaimana sebaiknya agama saya berelasi dengan yang lainnya? Dapatkah saya belajar dari agama yang lain? Dapatkah saya belajar dari mereka lebih dalam dari apa yang saya pelajari dari agama saya sendiri? Mengapa saya beragama ini dan orang lain beragama yang lain? Pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang menyakitkan, khususnya bagi mereka yang memandang agama mereka dengan serius."1630
Dalam upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, maka Knitter memberikan tiga pertimbangan yang mendasari pembahasannya: pertama, realitas pluralisme agamawi di dunia masa kini. Kedua, visi baru dari kesatuan agama sehingga realita ini menjadi saran bagi banyak pemikir. Ketiga, masalah-masalah bahwa semua ini dimunculkan bagi Kristen-Kristen yang berintelijen dan prihatin.1631
Dari pertimbangannya inilah, Knitter mulai mengekspos perihal pluralisme agama dengan memandangnya dari sudut pandang yang baru, sehingga ia menamakan pluralisme agama itu sebagai suatu realita yang dialami dengan cara yang baru (a newly experienced reality). Maksudnya adalah bukan sekedar suatu pengetahuan tentang sistem-sistem atau gagasan-gagasan agama yang lain, tetapi juga pengetahuan tentang pribadi-pribadi yang beragama lain itu yang kompleks, sehingga kita bisa saling belajar dari bahasa mereka, pengalaman mereka, dan kehidupan mereka sehari-hari.1632 Selain itu perlu adanya perspektif baru dalam memandang pluralisme agama itu, yaitu mengarahkan kesadaran kultural kita kepada pemahaman yang sederhana tetapi penting, yaitu bahwa 'tidak ada yang satu dan satu-satunya' (there is no one and only way) dan kesadaran ini bukan saja diterapkan pada agama-agama, tetapi juga pada budaya, filsafat, dan sistem ekonomi.1633 Prinsip ini sebenarnya berkaitan dengan pandangan dari Nicholas Lash yang mengatakan bahwa "hari ini, jagad raya pengertian tidak memiliki pusat."1634 Knitter juga mengutip pandangan Panikkar bahwa:
"Kita sedang menghadapi suatu fakta bahwa saya (pemikiran saya, kesadaran saya, keberadaan saya, bangsa saya, agama saya) tidak dapat menyempurnakan hal-hal yang riil, juga bukan sayalah yang menjadi pusatnya - tetapi saya hanyalah salah satu kutubnya, kalaupun bukan sesuatu sama sekali. Ada banyak yang lain."1635
Setelah memaparkan tantangan yang mengajak para pembacanya untuk memiliki kesadaran yang kuat tentang tantangan pluralisme sebagai suatu masalah eksistensial manusia, Knitter menawarkan jalan keluar untuk menghadapi tantangan ini yaitu dengan memperkenalkan satu jenis kesatuan di antara banyak agama-agama yang ada di dunia ini, yaitu pluralisme yang unitif. Titik awal yang menjadi dasar gagasan ini adalah berangkat dari pemikiran bidang ilmu filsafat, sosiologi psikologi, dan politik ekonomi."
C. Ajaran tentang Pluralisme Agama yang Unitif
Berangkat dari tiga kelompok disiplin ilmu yang dipakai oleh Knitter sebagai acuannya, maka ia memaparkan argumen-argumennya tentang kepentingan pluralisme agama yang unitif. Pertama, Knitter mengamati bidang filsafat, mengenai pandangan yang prosesif dan relasional tentang realita (The Processive Relational View of Reality). Knitter mengatakan bahwa dunia ini dan segala sesuatu yang ada di dalamnya bersifat evolusioner atau sedang berada di dalam proses, sehingga kita tidak ada di dalam suatu kondisi keberadaan (being), tetapi dalam kondisi menjadi (becoming)." Ia memberikan begitu banyak contoh tentang gagasan mengenai hal-hal yang prosesif dalam realita kehidupan manusia sejak zaman dulu, misalnya Heraclitus yang pada 2.500 tahun yang lalu menyelidiki bahwa 'segala sesuatu mengalir' dan kita semua tidak dapat melangkah pada sungai yang sama untuk kedua kalinya. Lalu pandangan ini didukung oleh Alfred North Whitehead dan Charles Hartshorne tentang visi dari sebuah dunia yang berada di dalam sebuah petualangan kreatifitas melalui proses, Teilhard de Chardin yang memandang alam semesta ini yang sedang berevolusi dengan penuh kesakitan tetapi stabil dari biosphere (dunia yang berisi kehidupan) kepada noosphere (dunia kesadaran manusia dan aktivitas mental yang berpengaruh kepada biosphere itu dan berkaitan dengan evolusi) dan menuju kepada kesatuan titik omega.1636
Dari banyak contoh lainnya, khususnya dari dunia filsafat Knitter lalu merumuskan tentang pluralisme unitif ini semacam suatu pergerakan yang bukan menuju pada kesatuan yang monistik atau absolut, tetapi menuju suatu pluralitas yang mengukuhkan unitas (kesatuan).1637 Setelah itu, ia memaparkan definisi yang lengkap mengenai pluralisme yang unitif, yaitu:
"...sebuah pengertian baru tentang kesatuan agamawi dan sama sekali berbeda dengan yang gagasan yang lama dan rasionalistik tentang 'satu agama dunia'.... Visi baru ini bukan sinkretisme yang menggabungkan semua perbedaan historis di antara agama-agama dalam rangka melembagakan inti mereka yang sama, juga bukan imperialisme yang percaya bahwa ada satu agama yang memiliki kuasa untuk memurnikan dan dengan demikian merendahkan semua yang lain. Juga bukan satu bentuk toleransi yang malas yang membawa semua agama pada tahap saling menyadari validitas yang lain dan kemudian saling meremehkan dan masing-masing pergi menuju jalan yang memuaskan diri masing-masing.... Pluralisme yang unitif adalah suatu kesatuan di mana tiap-tiap agama, meskipun kehilangan individualismenya (ego pemisahnya), akan mengintensifkan personalitasnya (kesadaran diri sendiri melalui relasi). Setiap agama akan memelihara keunikannya sendiri, tetapi keunikan ini akan berkembang dan akan terus mengambil kedalaman-kedalaman yang baru dengan cara berelasi dengan agama-agama lain dalam kebergantungan yang mutual.1638
Kedua, Knitter membahas bidang sosiologi dan psikologi sosial dengan menjelaskan bahwa setiap Kristen perlu memiliki jati diri pribadi melalui kewarganegaraan dunia (personal identity through world citizenship). Knitter menggunakan pendekatan yang dilakukan oleh Lawrence Kohlberg tentang pentingnya pergerakan dari pemahaman yang konvensional kepada pasca konvensional tentang identitas dan moralitas.1639 Dari pendekatan inilah, Knitter menjelaskan mengenai jati diri personal yang universalistik atau yang menyadari diri sebagai warganegara dunia ini.
Pendekatan ini diterapkan oleh Knitter dalam kehidupan beragama, sehingga dihasilkan suatu jati diri agama yang universalistik, yaitu sekalipun ia adalah milik sebuah tradisi agama, ia tidak terikat pada bentuknya yang kaku, tetapi ia bebas menjadi pribadi yang otonomi dalam suatu proses komunikasi yang tidak ketat dan kaku dengan orang lain dari tradisi yang sama maupun tradisi lain dengan tujuan untuk adanya persetujuan, dan bukan kompromi.1640 Hal inilah yang mendukung terwujudnya pluralisme unitif, yaitu sebuah bentuk baru dari kesatuan agamawi di mana di dalamnya setiap agama memelihara dan menemukan hal yang memperbarui jati diri mereka sendiri di dalam dan bersama agama-agama yang lain.
Ketiga, Knitter berbicara tentang bidang politik dan ekonomi dengan mengatakan bahwa adanya kebutuhan akan sebuah tatanan internasional yang baru (the need for a new international order). Berdasarkan pengamatan terhadap kondisi politik dan ekonomi, Knitter menyadari bahwa perlu adanya tatanan internasional yang baru untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dalam kedua bidang tersebut. Maksudnya tatanan dunia yang baru adalah sebuah dunia yang mana di dalamnya bumi adalah milik semua, yaitu sebuah dunia di mana bangsa-bangsanya akan menetapkan nilai-nilai dan struktur-struktur yang dapat mengubah ekonomi kerakusan menjadi ekonomi komunitas. Sebuah dunia di mana tiap-tiap bangsanya akan menyadari bahwa ekonomi komunitas itu dapat terjadi hanya bila ada respek dan dukungan kemakmuran bagi bangsa lain. Ini akan menjadi sebuah dunia yang mana komunitas bangsa-bangsa individualnya sungguh-sungguh membentuk sebuah komunitas dari komunitas-komunitas (the community of communities), di mana di dalamnya kata 'kami' mempunyai arti baru dalam relasi dan rasa sebagai keseluruhan umat manusia di dunia ini.1641
Untuk mencapai tatanan dunia yang baru ini, maka kontribusi agama dalam hal ini sangatlah penting. Hal ini dikarenakan semua agama-agama utama di dunia ini meninggikan nilai kasih yang rela berkorban bagi orang lain dan mengandung simbol-simbol kesatuan universal dari umat manusia.1642 Oleh karena itu, untuk menuju sebuah kolaborasi yang baru antara agama-agama harus diawali dengan pengakuan yang rendah hati bahwa memang agama-agama dunia telah mengakibatkan perpecahan umat manusia. Selanjutnya mereka harus menghargai satu dengan yang lainnya, belajar dari yang lain dan saling berdialog.1643
Sampai di sini dapat sedikit disimpulkan bahwa Knitter memberikan visinya yang menjadi tantangan bagi Kristen. Dalam penguraiannya, Knitter beberapa kali menyebutkan, apakah pluralisme yang unitif ini hanya sebuah mimpi saja dan ia menjawab bahwa mimpi ini perlu diwujudkan menjadi kenyataan.1644
D. Dampak dan Perkembangan Visi Pluralisme Agama yang Unifif terhadap Ajaran Pluralisme Knitter
Setelah mengamati proposal Knitter tentang visi pluralisme unitif ini, maka inilah sebenarnya yang menjadi motor penggerak yang lalu melahirkan pandangan-pandangan dalam ajaran pluralisme dan teologi Knitter selanjutnya. Dalam konteks terdekat atau dalam penguraian selanjutnya setelah visi dipaparkan dalam buku yang sama, pengaruh dari visinya ini kuat sekali dalam penguraiannya tentang sikap orang Kristen terhadap agama-agama lain yang ada di dunia ini, yaitu bukan model evangelikal (dengan penekanan pada hanya ada satu agama yang benar) atau model katolik (dengan penekanan pada banyak agama tetapi satu norma) yang keduanya dirasakan Knitter kurang selaras untuk kondisi dunia yang pluralis. Namun, orang Kristen harus menerapkan model Teosentris yang ia setujui bersama dari rekan-rekan pluralis lainnya, seperti John Hick (The Myth of The Incarnation), Raimundo Panikkar (The Universal Christ and The Particular Jesus), dan Stanley Samartha (The Relativity of All Revelations) yang didukung lagi dari dialog Yahudi Kristen yang menyatakan bahwa Yesus bukan Mesias. Model Teosentris ini menekankan pada banyak jalan (dalam agama masing-masing) yang menuju pada pusat, yaitu Allah. Dalam pandangannya ini, tampak jelas semangat mewujudkan kesatuan itu dengan memusatkan diri pada Allah daripada kepada Kristus, yang notabene hanya ada di dalam kekristenan dan tidak di dalam agama lain.
Selain itu, pandangan Knitter tentang Kristologi yang Teosentris dan relasional yang di dalamnya dijelaskan tentang Kristus yang dipahaminya.1645 Knitter mengajukan lima tesis tentang Keunikan Yesus: pertama, karena natur dan sejarah Kristologi, maka pengertian terdahulu tentang keunikan Yesus dapat direinterpretasikan. Kedua, karena keharusan dialog pengertian terdahulu tentang keunikan Yesus harus direinterpretasikan. Ketiga, keunikan peranan Yesus yang menyelamatkan dapat direinterpretasikan dalam arti 'sesungguhnya', tetapi bukan 'satu-satunya'. Keempat, isi keunikan Yesus harus diperjelas dalam kehidupan dan kesaksian Kristen, dan ini dimengerti dan diberitakan dengan cara yang berbeda dalam konteks dan periode sejarah yang berbeda. Hari ini keunikan Yesus dapat ditemukan dalam kandungannya bahwa keselamatan atau pemerintahan Allah harus disadari di dalam dunia ini melalui tindakan-tindakan kasih dan keadilan manusia. Kelima, reinterpretasi tentang keunikan Yesus ini harus berdasar terutama pada kemampuan reinterpretasi itu untuk menumbuhkan spiritualitas Kristen yang holistik, yaitu ibadah dan pengikutan Yesus. Pemahaman tentang Yesus sebagai firman Allah yang menyelamatkan harus dimengerti sebagai yang sesungguhnya, tetapi bukan satu-satunya (truly but not the only). Pengaruh dari visi pluralisme yang unitif ini begitu kental dalam konsep Knitter tentang keunikan Yesus itu.
Di samping itu, pengaruh visi pluralisme unitif ini berpengaruh pada pandangannya tentang teologi pembebasan agama-agama yang memakai pendekatan teologi pembebasan untuk menuju pada pembebasan agama-agama yang ada di dunia ini.1646 Dalam penguraiannya mengenai hal ini, Knitter seolah memandang orang-orang beragama itu seperti orang yang terkungkung dalam sistem agama dan kepercayaannya masing-masing yang kaku, sehingga mereka perlu dibebaskan dari kungkungan itu dan menuju pada suatu pembebasan diri dari kekakuan agama-agama tersebut.
Bukan saja terhadap pandangan-pandangannya, tetapi visi pluralisme unitif ini juga menjadi penggerak dari tindakan-tindakan Knitter dalam membangun semangat dialogis yang kuat antar agama. Misalnya, tulisannya tentang dialog dan tanggung jawab global1647 dan misi Kristen serta tanggung jawab global.1648 Di mana dalam kedua karyanya ini, Knitter menjelaskan mengenai keharusan berdialog yang korelasional (correlational dialogue)1649 bertanggung jawab dan secara global (globally responsible) dan ia memberikan masukan tentang saran-saran dalam berdialog dengan orang yang berbeda iman. Sehingga tidaklah mengherankan bila istilah relasional dan korelasional menjadi dua kata kunci yang digunakan baik dalam ajarannya maupun dalam tindakan dialognya.