: A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
Iman | IMAN, KEPERCAYAAN | Imer | Imlah | Immer | IMMORTALITAS | Imna | Imnah | Imnites | Imrah | Imri
Daftar Isi
BROWNING: IMMORTALITAS

IMMORTALITAS

IMMORTALITAS [browning]

Kehidupan abadi, yang terus berlanjut setelah *kematian.

1. PL. Dalam PL terdapat berbagai kepercayaan tentang hal ini, dan bentuk yang paling awal mengenai harapan ke masa depan adalah kelangsungan hidup bagi seluruh bangsa, ketimbang kelangsungan hidup bagi individu. Namun, demikianlah kepercayaan orang Ibrani akan kuasa Allah mereka; kematian tidak mencakup pemusnahan, bahkan untuk seorang individu pun. `Elia dan *Elisa, keduanya dilaporkan bahwa telah menghidupkan kembali orang mati (1Raj. 17:17-21; 2Raj. 4:18-37), yang merupakan bukti kuasa Allah yang mengatasi maut. Namun, harapan ini tidaklah menyenangkan, keberadaannya samar-samar, kemungkinan di dalam gua di bawah bumi (*syeol). Dibebaskan dari syeol berarti diselamatkan dari maut (Mzm. 28:1; 30:3; 88:4). Kehidupan di dalam syeol bukanlah kehidupan jiwa yang telah dilepaskan dari tubuh, karena orang Ibrani tidak membagi secara tajam antara tubuh dan *jiwa. Namun, syeol merupakan konsep yang tidak memuaskan. Jika pada akhirnya gagasan tentang keberadaan di masa depan, dalam kesukacitaan dan penggenapan, berakar dalam *Yudaisme, maka syeol lebih diasumsikan sebagai bentuk *kebangkitan tubuh, daripada lepasnya jiwa yang immortal dari penjara tubuhnya. Namun, Yudaisme Helenistik benar-benar mengadopsi gagasan *Gnostik mengenai immortalitas jiwa (mis. Keb.

3); meskipun beberapa orang memang menolak kepercayaan itu, seperti dilakukan oleh penulis Yesus bin Sirakh (3:19-21).

Mungkin umat Ibrani menyadari pemujaan orang Kanaan alas kematian dan kebangkitan seorang dewa (yang kemungkinan mendasari tema liturgis dalam Hos. 6:1 dst.). Namun, orang *Kanaan tidak mengharapkan kebangkitan mereka sendiri. Di Israel, kepercayaan ini berkembang seiring dengan tumbuhnya perasaan tanggung jawab individual, dan bersamaan dengan itu timbul harapan bagi individu-individu setelah kematian, terlepas dari harapan nasional semata. Dalam PL gagasan tentang kebangkitan, pertama-tama secara jelas diungkapkan dalam Yes. 26:19, dan Dan. 12: 2, dan pada umumnya hal ini diterima pada masa 2Mak. 7:9-11 serta tulisan-tulisan apokalyptik, termasuk Henokh, 4 Ezra, dan 2 Barukh. Naskah-naskah *Qumran juga mengharapkan kebangkitan di masa depan. Hal ini disangkal oleh orang-orang *Saduki (yang tidak ada lagi setelah tahun 70 M), namun kepercayaan terhadap kebangkitan pada orang-orang *Farisi bertahan.

2. PB. Yesus setuju dengan orang-orang Farisi (Mrk.12:18 dst.; Luk. 14:14), meskipun kebangkitan itu memiliki bentuk yang berbeda dengan keberadaan pada kehidupan masa kini. Kebangkitan orang-orang beriman (namun bukan kebangkitan daging dan darah sekarang ini yang dinantikan oleh umat Kristen dengan 'keluh kesah', seperti rasa sakit saat akan melahirkan, Rm. 8:23) merupakan bagian pemberitaan Paulus mengenai Kristus sebagai buah sulung kebangkitan bagi mereka yang taat pada kehendakNya (Rm. 6:5-6). Dalam Injil Yohanes terdapat doktrin tentang kebangkitan, baik orang benar, maupun orang jahat, untuk dihakimi (Yoh. 5:28 dst.), dan Ibr. 6:2 menyatakan doktrin tentang kebangkitan orang mati sama seperti di kalangan iman Kristen perdana. Mengenai nasib orang-orang mati dalam menantikan kebangkitan, tampaknya dalam kepercayaan Kristen perdana terdapat keyakinan mengenai adanya tempat kediaman sementara, yang memisahkan antara orang-orang benar dan orang-orang jahat yang telah mati. Hal ini jelas menyiratkan kepercayaan akan penghakiman orang mati yang akan terjadi dengan segera (Luk. 16:24).

Henokh 22 menyatakan bahwa sementara menantikan kembalinya bentuk ragawi pada waktu kebangkitan, roh anak-anak orang mati dibagi ke dalam ruang-ruang (yang menyiratkan penghakiman) dengan keberadaan yang mandiri.

Perbedaan kepercayaan mengenai kehidupan setelah kematian yang terdapat dalam Alkitab masih diperbincangkan oleh para filsuf agama modern. Dua pandangan utamanya adalah: kelangsungan hidup pribadi rohani lepas dari tubuh, atau kehidupan baru dalam bentuk jasmani. Kesulitan pandangan pertama adalah bahwa diri manusia merupakan entitas kompleks yang membutuhkan begitu banyak hal untuk menjadi jasmani, sehingga sulit untuk mengatakan bahwa tanpa tubuh manusia masih sebagai manusia. Kesulitan pandangan kedua adalah mengharuskan adanya entitas (keberadaan) setelah kematian yang bagaimanapun merupakan kelanjutan jasmani dari apa yang pernah ada sebelum kematian. Hal ini menyiratkan bahwa mayat yang telah dikuburkan atau dikremasi dapat diberdayakan oleh Allah sehingga akan hidup kembali -- apabila Allah itu suatu pelaku moral yang berkehendak bah manusia tetap hidup setelah kematiannya.




TIP #22: Untuk membuka tautan pada Boks Temuan di jendela baru, gunakan klik kanan. [SEMUA]
dibuat dalam 0.09 detik
dipersembahkan oleh YLSA